Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

UNEJ Ciptakan Mesin Granulator, Limbah Batu Gamping Disulap Jadi Pupuk Organik Murah untuk Petani Jember

JemberJejakindonesia.news // Inovasi teknologi dari Universitas Jember (UNEJ) kembali menunjukkan peran nyata dunia kampus dalam menjawab persoalan masyarakat. Melalui kolaborasi mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Pertambangan, UNEJ berhasil mengembangkan mesin granulator pupuk organik berbahan baku limbah batu gamping.

Inovasi ini tak hanya menyasar persoalan lingkungan akibat sisa tambang, tetapi juga mendukung ketersediaan pupuk terjangkau bagi petani sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan.

Mahasiswa Teknik Mesin UNEJ, Iwan Ahmad, yang terlibat langsung dalam perancangan alat, menjelaskan bahwa proses pengembangan mesin memakan waktu sekitar tiga bulan. Tahap awal difokuskan pada desain dan perencanaan, sedangkan dua bulan berikutnya digunakan untuk proses fabrikasi di Laboratorium Manufaktur Teknik Mesin.

“Komponen utama mesin menggunakan plat besi dan pipa galvanis antikarat pada bagian roller. Penggeraknya memakai motor 1.500 watt yang dilengkapi speed reducer tipe WPA rasio 1:50 untuk menghasilkan torsi yang lebih besar,” jelas Iwan.

Keunggulan mesin ini terletak pada kemampuannya menggabungkan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai mixer dan granulator dalam satu sistem terpadu.
“Desainnya benar-benar kami kembangkan dari awal. Tujuannya agar alat ini efektif mengolah bahan baku lokal yang tersedia, terutama limbah batu gamping,” tambahnya.

Ketua tim peneliti, Rina Lestari dari Teknik Pertambangan UNEJ, mengungkapkan bahwa riset ini berangkat dari keprihatinan terhadap menumpuknya limbah batu gamping di area pertambangan Desa Grenden, Kecamatan Puger.

“Limbah ini nilainya sangat rendah, hanya sekitar Rp100 per kilogram. Melalui dukungan hibah inovasi industri dari LP2M, kami mencoba meningkatkan nilai ekonominya dengan mengolahnya menjadi bahan pupuk,” ujarnya.

Dalam formulasi pupuk, batu gamping yang bersifat anorganik dipadukan dengan bahan organik lain agar memenuhi standar kualitas pupuk organik. Komposisinya meliputi batu gamping, fosfat sebagai penambah unsur hara, kotoran sapi fermentasi, serta tetes tebu sebagai perekat alami sekaligus sumber nutrisi tambahan.

Menurut Rina, inovasi ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong swasembada pangan. Ia berharap riset ini dapat terus dikembangkan hingga memperoleh izin edar dan diproduksi secara massal oleh mitra industri.

“Jika diproduksi luas, pupuk ini bisa dijual dengan harga lebih terjangkau, membuka lapangan kerja, dan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” tegasnya.

Lebih dari sekadar capaian akademik, tim peneliti memandang proyek ini sebagai bagian dari misi sosial berbasis teknologi tepat guna (TTG). Teknologi seperti ini dinilai mampu mendorong pertumbuhan usaha rintisan dan UMKM berbasis inovasi lokal.

Rina juga mendorong Pemerintah Kabupaten Jember untuk memperkuat dukungan terhadap inovasi masyarakat, salah satunya melalui penyelenggaraan rutin lomba TTG yang melibatkan desa, kecamatan, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum.

Selain itu, ia mengusulkan adanya pelatihan dan pembinaan keterampilan berbasis teknologi bagi anak jalanan maupun warga binaan lapas agar inovasi seperti ini turut berkontribusi menekan angka pengangguran dan kriminalitas.

“Harapan kami, teknologi tepat guna bisa menjadi solusi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong ekonomi kerakyatan di Jember,” pungkasnya.

Dodik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *