Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Festival Egrang ke-14 Tanoker Resmi Diluncurkan, Wamen Nezar: Permainan Tradisional Bentuk Mental Anak di Era Digital

Jember – Jejakindonesia.news // Tanoker resmi meluncurkan rangkaian Festival Egrang ke-14 pada Sabtu (9/5/2026) di area Pasar Lumpur.

Kegiatan tahunan ini menjadi ruang bagi masyarakat, pelajar, dan komunitas seni untuk mengekspresikan kreativitas, seni budaya, hingga kuliner tradisional.

Festival Egrang tahun ini mengusung tema “Ayo Mencintai Rupiah dan Permainan Tradisi Egrang” serta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember dan Bank Indonesia. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus 2026.

Direktur Tanoker menyampaikan, Festival Egrang terus berkembang dan mendapat dukungan luas dari sekolah maupun komunitas seni di Kabupaten Jember.

Jika tahun lalu diikuti 20 sekolah dan empat komunitas seni, tahun ini jumlah sekolah prototipe yang menerapkan permainan tradisi egrang dalam modul ajar bertambah menjadi 24 sekolah.

Launching festival turut dihadiri Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria. Dalam sambutannya, Nezar menegaskan permainan tradisional seperti egrang tetap relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Menurutnya, anak-anak saat ini membutuhkan ruang untuk mengasah kecerdasan emosional melalui permainan tradisional, di tengah kebiasaan bermain gim digital.

“Permainan egrang mengajarkan anak-anak tentang keseimbangan, kolaborasi, dan semangat untuk bangkit saat jatuh. Ini membangun mental yang kuat bagi generasi muda,” ujar Nezar.

Ia juga menekankan pentingnya digitalisasi budaya untuk menjaga warisan tradisional tetap dikenal generasi masa depan.

Dokumentasi permainan tradisional melalui platform digital dinilai menjadi langkah penting agar budaya lokal tetap lestari di era modern.

Rangkaian launching Festival Egrang dimeriahkan dengan lomba mewarnai tingkat TK, senam bersama, pertunjukan tari egrang, pelepasan balon festival, hingga berbagai permainan tradisional seperti balap bakiak, polo lumpur, dan tarung bantal.

Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui lapak kuliner dan kerajinan lokal di kawasan Pasar Lumpur.

Diperkirakan lebih dari seribu peserta dan pengunjung hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari pelajar, guru, komunitas seni, tokoh masyarakat, hingga masyarakat umum.

(Dodik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *