Banyuwangi, – Jejakindonesia.news // Di tengah kemeriahan peringatan Hari Bhayangkara setiap tahunnya, ada satu sosok yang selalu hadir dengan cara berbeda. Ia bukan anggota Polri, bukan pula seorang jenderal. Namun selama sebelas tahun berturut-turut, namanya selalu lekat dengan berbagai kegiatan doa dan syukuran untuk Hari Bhayangkara. Dialah Raden Mas H. Agus Rugiarto, S.H., yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Agus Flores.
Agus Flores lahir dari keluarga yang memiliki kedekatan dengan dunia kepolisian. Ibundanya merupakan putri dari Andrias Ade asal Flores, seorang anggota Polri yang dikenal sebagai orang kepercayaan Kapolri kedua, Jenderal Soekarno Djojonegoro. Sementara ayahnya, Raden Kusnandar, berasal dari Jawa Timur dan merupakan putra Raden Kusman Astrodiarjo Kertabumi, Mantri Pengairan di wilayah Karesidenan Besuki.
Sejak kecil, Agus Flores dikenal sebagai pribadi pendiam dan lebih senang menyendiri dibandingkan teman-teman seusianya. Namun, sebagian orang di sekitarnya meyakini bahwa ia memiliki kemampuan spiritual yang telah tampak sejak lahir. Keyakinan itulah yang kemudian membentuk perjalanan hidupnya hingga dikenal sebagai sosok yang dekat dengan berbagai kalangan.
Saat menempuh pendidikan di Universitas Tadulako, namanya disebut-sebut memiliki kedekatan dengan almarhum Dr. Sahabuddin Mustafa. Dalam perjalanan hidupnya merantau ke berbagai daerah, mulai dari Sulawesi hingga Jakarta, Agus Flores selalu membangun hubungan baik dengan para tokoh daerah, mulai dari wali kota hingga gubernur.
Ketertarikannya terhadap dunia Bhayangkara semakin kuat setelah hijrah ke Jakarta dan resmi disumpah sebagai advokat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sejak saat itu, kecintaannya terhadap institusi Polri diwujudkan bukan melalui seragam, melainkan lewat doa, kegiatan sosial, dan berbagai bentuk dukungan moral.
Pada tahun 2015, Agus Flores mengawali tradisi mendoakan Hari Bhayangkara dengan menggelar doa di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Sejak itulah, hampir setiap peringatan Hari Bhayangkara ia bersama istri dan anak-anak selalu menyempatkan diri hadir di tanah Jawa Timur untuk mengikuti atau menggelar kegiatan doa dan syukuran bagi institusi Polri.
Baginya, Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memanjatkan doa agar seluruh anggota Polri senantiasa diberikan kekuatan, keselamatan, serta kemampuan menjaga keamanan dan ketertiban bangsa.
Agus Flores meyakini bahwa keistiqamahannya mendoakan Bhayangkara selama bertahun-tahun telah menghadirkan banyak hikmah dalam kehidupannya. Salah satu nikmat yang paling ia syukuri adalah kesempatan berkali-kali membawa keluarganya menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Kini, setelah lebih dari satu dekade menjaga tradisi tersebut, Agus Flores dikenal memiliki hubungan baik dengan banyak pejabat utama dan perwira tinggi di lingkungan Mabes Polri. Meski demikian, ia tetap menempatkan dirinya sebagai masyarakat biasa yang ingin terus memberikan dukungan melalui doa dan pengabdian.
Bagi Agus Flores, kecintaan kepada Bhayangkara bukanlah soal jabatan ataupun pangkat. Melainkan sebuah panggilan hati untuk terus mendoakan mereka yang mengabdikan diri menjaga keamanan negeri. Sebuah perjalanan panjang yang telah ia jalani selama sebelas tahun, dengan harapan semangat pengabdian itu akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.













