Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Bukan Sekadar Kirab, Ancak Agung Jadi Pesan Keras Jember soal Toleransi

JEMBER – Jejakindonesia.news || Ancak Agung tak sekadar bicara soal gunungan hasil bumi dan kemeriahan kirab. Di tengah 867 ancak yang diarak di Jember, Sabtu (22/8/2026), terselip pesan yang jauh lebih besar: keberagaman jangan hanya dipajang, tetapi harus dijaga.

Kirab Budaya Ancak Agung digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Dua momentum berbeda itu dipertemukan dalam satu panggung budaya.

Tema yang diusung pun cukup tegas: “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember.”

Pesannya tidak berhenti pada slogan.

Ratusan peserta dari OPD, puskesmas, desa, kelurahan, sekolah hingga lembaga kemasyarakatan berjalan dalam satu rangkaian kirab. Tidak ada sekat instansi maupun latar belakang. Semua bertemu dalam tradisi yang tumbuh dari masyarakat.

Ancak yang dibawa pun bukan sekadar hiasan. Hasil bumi dan makanan tradisional menjadi gambaran sederhana tentang wajah Jember: daerah agraris yang memiliki kekayaan pangan sekaligus tradisi yang masih dirawat.

Namun, sorotan paling kuat justru muncul dari pesan Bupati Jember Gus Fawait.

Di tengah kirab, Gus Fawait mengenakan syal bercorak Indonesia dan Palestina. Simbol itu sengaja dijelaskan agar tidak ditarik ke persoalan agama.

“Ini bukan urusan agama, tetapi ini adalah urusan kemanusiaan,” ujar Gus Fawait.

Menurut dia, kepedulian terhadap Palestina merupakan bagian dari sikap kemanusiaan.

Semangat tersebut juga dinilai sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa.

Dari Jember, pesan itu ingin dibawa lebih jauh.
Bukan hanya tentang budaya lokal. Bukan pula sekadar perayaan keagamaan. Tetapi tentang bagaimana masyarakat hidup berdampingan tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling mengganggu.

Gus Fawait bahkan menarik pesan Maulid Nabi ke persoalan kehidupan sosial yang lebih konkret.

Ia menegaskan, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup diucapkan dalam perayaan Maulid. Ukurannya justru terlihat dari perilaku terhadap sesama, termasuk kepada pemeluk agama lain.

“Kalau mengaku umat Nabi Muhammad, tidak mungkin akan mengganggu ibadah agama yang lain,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan paling tajam dalam pelaksanaan Ancak Agung tahun ini.

Sebab, toleransi tidak berhenti pada seremoni. Tidak cukup pula hanya ditampilkan dalam kirab budaya.

Toleransi harus hadir ketika masyarakat berhadapan langsung dengan perbedaan.

Ancak Agung kemudian menjadi semacam cermin.

Tradisi keagamaan, budaya, nasionalisme dan keberagaman masyarakat Jember dipertemukan dalam satu momentum.

Sebanyak 867 peserta menjadi bukti bahwa tradisi tersebut bukan milik satu kelompok saja. Pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, desa, kelurahan dan masyarakat mengambil bagian.

Dari sana, ancak yang berisi hasil bumi justru membawa pesan yang lebih besar: sesuatu yang berbeda bisa disusun menjadi satu kesatuan tanpa harus menghilangkan bentuk aslinya.

Begitu pula masyarakat.

Perbedaan tidak perlu diseragamkan. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk saling menghormati.

Gus Fawait berharap Ancak Agung tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Ia ingin tradisi tersebut terus tumbuh dan semakin besar.

“Dari Jember untuk Indonesia, dari Jember untuk dunia. Mari kita jaga tradisi, kita kuatkan ukhuwah, kita rawat toleransi, dan kita angkat marwah Jember bersama-sama,” pungkasnya.

Ancak Agung akhirnya bukan hanya soal apa yang diarak. Lebih dari itu, kirab tersebut membawa pertanyaan sederhana: sejauh mana tradisi mampu menjadi kekuatan untuk menjaga persaudaraan? Jember memilih menjawabnya lewat budaya, gotong royong dan pesan toleransi.

(Dodik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!