Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Tak Tunggu Warga Datang ke Puskesmas, Homecare Jember Sisir Ibu Hamil hingga Lansia Lumpuh

JEMBER – Jejakindonesia.news || Pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember mulai mengubah pola.
Warga yang paling membutuhkan justru didatangi. Tim medis bersama kader PKK turun langsung ke rumah warga untuk memastikan kelompok rentan tidak terlewat dari pantauan kesehatan.

Langkah itu terlihat saat pelaksanaan program Homecare di Desa Pringgondani, Kecamatan Sumberjambe, Senin (24/8/2026). Sasaran kunjungan kali ini bukan warga biasa, melainkan mereka yang membutuhkan pengawasan lebih ketat.

Dua rumah menjadi sasaran utama.

Rumah pertama ditempati Musrifah, 40. Ibu hamil dengan usia kandungan 31 minggu itu masuk kelompok risiko tinggi.

Kondisi tersebut membuat pemantauan tidak cukup hanya mengandalkan jadwal pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Tim medis Puskesmas bersama TP PKK mendatangi kediamannya di Dusun Taman Burnih. Kondisi kehamilan diperiksa untuk memastikan kesehatan ibu dan janin tetap dalam pantauan.

Sasaran kedua bahkan membutuhkan perhatian lebih panjang. Narmo, 85, sudah lima tahun mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan.

Keterbatasan fisik membuat akses terhadap pelayanan kesehatan menjadi persoalan tersendiri.

Karena itu, kunjungan Homecare tidak berhenti pada pemeriksaan medis.

Tim juga melihat kebutuhan perawatan dasar bagi lansia dengan disabilitas tersebut.

Ketua TP PKK Kabupaten Jember Ning Ghyta Eka Puspita mengatakan, pola pelayanan seperti ini menjadi bagian penting dari kolaborasi lintas sektor. PKK, kata dia, tidak ingin hanya berperan di balik meja, tetapi ikut memastikan program pemerintah benar-benar menyentuh warga.

“Pendampingan ini bukan sementara. Kami akan terus berkoordinasi dengan Puskesmas untuk memastikan warga yang membutuhkan tetap mendapatkan perhatian,” katanya.

Menurut Ning Ghyta, kelompok rentan membutuhkan pengawalan yang konsisten. Terutama ibu hamil risiko tinggi yang membutuhkan pemantauan lebih intensif serta kelompok lansia dan penyandang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan.

Ke depan, jejaring pendampingan juga akan diperkuat untuk mencegah munculnya kasus stunting.

Pemantauan ibu hamil, balita dan keluarga berisiko menjadi bagian yang akan terus dikawal bersama Puskesmas dan kader di tingkat desa.

Pesannya jelas: pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti di gedung Puskesmas. Ketika warga sulit menjangkau layanan, layanan yang harus bergerak mendatangi warga.

(Dodik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!