Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Antrean Berjam-jam di Pelabuhan Tanjungwangi, Kapal Perbantuan Port Line Disorot

BANYUWANGI — Jejakindonesia.news || Kamis 1 Oktober 2026. Persoalan antrean kendaraan di kawasan Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, menjadi perhatian. Pengoperasian kapal perbantuan Port Line yang dinilai tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi dan kelayakan dermaga disebut berdampak pada kelancaran aktivitas bongkar muat dan waktu tunggu kendaraan.

Antrean panjang membuat sejumlah pengemudi harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan giliran bongkar maupun muat. Kondisi tersebut tidak hanya menyita waktu, tetapi juga berpotensi menghambat perputaran kendaraan dan distribusi barang.

Salah seorang driver yang mengaku telah mengantre selama berjam-jam menyampaikan keluhannya terkait kondisi tersebut.

“Bukan dermaga yang menyesuaikan kapal, tetapi kapal yang harus menyesuaikan dengan kondisi dan kelayakan dermaga. Kalau kapal tidak sesuai, dampaknya kami yang di bawah ini. Kami harus antre berjam-jam dan kendaraan tidak bisa segera bergerak,” ujarnya.

Menurutnya, antrean kendaraan yang terlalu lama dapat menimbulkan efek berantai. Kendaraan yang seharusnya segera kembali melayani perjalanan berikutnya harus tertahan di kawasan pelabuhan.

Antrean yang semakin panjang juga berpotensi membuat kepadatan kendaraan meluas ke area sekitar pelabuhan. Jika waktu tunggu bongkar muat semakin lama, maka semakin banyak kendaraan yang menumpuk dan semakin lambat pula perputaran armada.

Persoalan tersebut menjadi lebih serius apabila kapal yang masuk atau digunakan sebagai kapal perbantuan membutuhkan pola pelayanan dermaga yang tidak sesuai dengan kondisi operasional yang tersedia.

Alih-alih menjadi solusi untuk memperlancar arus logistik, kondisi tersebut dikhawatirkan justru menciptakan titik hambatan baru, terutama pada proses sandar, bongkar muat, antrean kendaraan, hingga keluarnya truk dari kawasan pelabuhan.

Para pengguna jasa berharap Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tidak hanya melihat persoalan dari sisi ketersediaan kapal, tetapi juga mengevaluasi dampak operasionalnya terhadap seluruh rantai pelayanan di pelabuhan.

Evaluasi diperlukan untuk melihat secara menyeluruh berapa lama waktu tunggu kendaraan, bagaimana pola antrean terjadi, apakah kapasitas dermaga sesuai dengan kapal yang dilayani, serta bagaimana dampaknya terhadap kapal dan kendaraan lain yang sudah mengantre.

“Yang kami minta bukan sekadar solusi di atas kertas. Kalau solusi kapal perbantuan justru membuat antrean semakin panjang dan kendaraan tertahan berjam-jam, berarti harus ada evaluasi dan solusi yang benar-benar bisa mengurai antrean,” ujar driver tersebut.

Kondisi antrean yang berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan biaya operasional kendaraan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk perjalanan dan distribusi barang berubah menjadi waktu tunggu di pelabuhan.

Karena itu, diperlukan penataan pola pelayanan yang mampu menjaga kelancaran bongkar muat, mempercepat perputaran kendaraan, mengurangi waktu tunggu, serta mencegah penumpukan kendaraan di area Pelabuhan Tanjungwangi.

Kementerian Perhubungan bersama pengelola pelabuhan dan operator kapal diharapkan segera mencari solusi operasional yang terukur dan dapat dirasakan langsung oleh pengguna jasa, bukan sekadar memindahkan titik antrean dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Sebab bagi para pengemudi dan pelaku distribusi, ukuran keberhasilan pelayanan bukan hanya kapal dapat beroperasi, tetapi juga seberapa cepat kendaraan dapat masuk, melakukan bongkar atau muat, dan kembali keluar dari pelabuhan tanpa harus tertahan berjam-jam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!