
Jember – Jejakindonesia.news // Program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan) dinilai bukan sekadar agenda seremonial, melainkan strategi pelayanan publik yang memperkuat kedekatan antara kepala daerah dan masyarakat. Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Jember, Gus Mamak, menyebut pendekatan ini menghadirkan ruang dialog yang lebih terbuka dan bermakna.
Menurutnya, kehadiran bupati secara langsung di desa mampu membangun komunikasi yang lebih jujur dan tanpa sekat.
Interaksi tatap muka dinilai menghadirkan kepercayaan sekaligus mempererat hubungan sosial yang selama ini sulit terbangun melalui pola komunikasi formal.
“Ketika pemimpin hadir langsung di tengah masyarakat, yang terbangun bukan hanya penyerapan aspirasi, tetapi juga kedekatan emosional. Ini yang membuat kebijakan menjadi lebih membumi,” ujar Gus Mamak.
Ia menambahkan, pola kerja dengan turun langsung ke lapangan memungkinkan kepala daerah memperoleh gambaran faktual yang tidak selalu tercermin dalam laporan administratif. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan riil masyarakat.
“Pendekatan seperti ini menjadi penting agar pengambilan keputusan tidak hanya berbasis data di atas kertas, tetapi juga realitas yang terjadi di lapangan,” katanya.
Terkait anggapan bahwa program tersebut berpotensi membebani anggaran daerah, Gus Mamak justru melihatnya sebagai langkah strategis jangka panjang. Ia menilai kehadiran langsung pemerintah dapat membuka peluang pengembangan potensi daerah yang selama ini belum tergarap optimal.
“Ini bukan soal pengeluaran semata, tetapi investasi untuk menggali potensi daerah yang bisa berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah,” tegasnya.
Di tengah isu efisiensi energi, ia juga menilai pelaksanaan program tetap dapat berjalan dengan penyesuaian operasional. Salah satunya melalui pengurangan penggunaan kendaraan dinas secara berlebihan dengan sistem mobilisasi bersama.
“Efisiensi tetap bisa dilakukan tanpa mengurangi substansi program. Ini soal bagaimana mengelola pelaksanaan agar tetap efektif dan hemat,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jember, Regar Jeane Dealen Nangka, menegaskan bahwa layanan berbasis digital belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Ia menyoroti masih adanya kelompok warga yang terkendala akses maupun literasi teknologi.
“Masih ada masyarakat yang belum terfasilitasi secara optimal oleh layanan digital. Karena itu, kehadiran langsung pemerintah tetap menjadi kebutuhan,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan lapangan melalui program seperti Bunga Desaku justru mempercepat respons terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Proses penyelesaian dinilai lebih singkat karena tidak harus melalui tahapan birokrasi yang panjang.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Jember akan mengombinasikan pelayanan digital dengan kehadiran langsung di tengah masyarakat. “Keduanya saling melengkapi. Digitalisasi penting, tetapi interaksi langsung tetap menjadi kunci agar pelayanan benar-benar merata,” pungkasnya.
(Dodik)

