Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

*Kecerdasan Spiritual Perlu Bagi Pemimpin dan Rakyat Bersinergi Membangun Bersama*

BantenJejakindonesia.news // Kesadaran yang menggetarkan rasa untuk bersyukur itu berpusat di kedalaman hati atas pemahaman terhadap kasih dan sayang Tuhan yang telah melimpahkan berkah-Nya dalam bentuk nikmat, kebahagiaan dan kegembiraan yang diperoleh bukan semata-mata atas hasil usaha dan kerja keras yang dilakukan sendiri, tetapi dapat disadari atas perkenaan Tuhan memiliki peran yang sangat menenrukan dan tidak bisa diabaikan begiti saja. Karena itu, rasa syukur perlu dilakukan manusia sebagai ekspresi dari rasa terima kasih sebagai bentuk penghormatan dab penghargaan manusia dengan sepenuh hati yang bernilai spiritual tiada terkira batasnya.

Ibarat tubuh yang membituhkan ruh sebagai penanda adanya bathin atau jiwa, maka keberadaan dari raga manusia tidak sekedar unsur materi belaka. Karena itu bisa segera dibayangkan ketika manusia tidak lagi memiliki ruh dan jiwa atau pun batin, maka sebutan dari sosoknya yang abdol adalah jasad. Begitulah perubahan
manusia menjadi sekedar fisik, sehingga tak lagi memiliki arti dalam hidup dan kehidupan, maka fisik manusia yang tidak lagi punya nilai apa-apa itu hanya perlu dikebumikan atau disemayamkan di pekuburan. Atau bahkan diperabukan jasadnya setelah dibakar untuk kemudian abu dari jasad yang telah dibakar itu dilarung ke laut.

Manusia sebagai makhluk ciptaan yang sempurna — ketika jiwa dan raganya — berfungsi dengan sempurna — antara raga dan jiwanya. Dan di dalam jiwa inilah terdapat bathin semacam sinyal penunjuk arah agar tubuh dan jiwa manusia tidak sampai tersesat di jalan terang. Artinya, bagaimana bisa dipercaya agar tidak sesat di jalan yang gelap. Sebab di jalan yang terang saja — seperti yang dapat dipedomani dari alkitab yang diturunkan dari langit, lebih dari sekedar cukup memberi petunjuk serta bimbingan agar dapat menjadi manusia yang baik dan benar, tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam pengetian bathin yang mengendalikan ruh dan jasad agar seimbang dan harmoni menampilkan sosok manusia yang merangkum atau merangkai antara ruh dan badan yang kelak ketika berpusah hanya akan menjadi jadad semata.

Karena itu dalam berbagai ekspresi manusia yang terbatas, orang hanya bisa menyebut eksistensi manusia dalam bentuk jiwa dan raga. Kendati dalam proses terbenruknya manusia saat berada dalam kandungan, pada usia tertentu dari cikal bakal janin manusia itu baru diberi nyawa atau ruh sehingga hidup untuk kemudian mati dan meninggalkan jasad. Karena itu jiwa dan raga atau ruh dan jasad akan sangat berarti disebut sebagai manusia yang memiliki ruh dalam jasadnya. Bila tidak, maka sosoknya hanya akan disebut sebagai mayit.

Agaknya, metapora yang sangat religius dan penuh muatan nilai-nilai spuliritual semacam itu dapat juga dipahami dalam pengertian antara negara dan bangsa. Jika negara dapat dipahami sebagai wadahnya, maka isi atau ruhnya adalah bsngsa itu sendiri yang akan mewarnai dari tanpilan negara itu yang dimiliki oleh suatu bangsa yang memiliki sikap dan kepribadian yang baik dan unggul — luhur — tidak sampai bisa diombang-ambingkan oleh bangsa lain. Dalam kinteks inilah pengertian dan pemaganan serta kesadaran spiritual sebagai penegak etika, moral dan akhlak suatu bangsa — apalagi untuk seorang pemimpin — sangat diperlukan dalam upaya menbangun karakter manusia, atau suatu bangsa yang kuat dan bermartabat. Oleh karena itu, karakter manusia yang luhur dan mulia itu akan selalu ditandai dari sikap militansinya terhadap hal-hal yang bersifat material atau spiritual, sebab sifat dan sikap manusia akan ditentukan oleh pandangan hidupnya — kalau tidak bisa disebut semacam ideoligi atau keimanan dalam perspektif agama.

Dalam perspejtif politik dan ketatanegaraan, agaknya pengertian serupa inilah yang dimaksud dari ideologi kapitalis yang berseberangan dengan sosialisme yang lebih memiliki nilai-nilai religius dan spiritual dibanding kapitalisme yang khas memiliki sikap dan sifat individual — tidak memiliki sifat dan sikap botong royong, jauh dari sistem kekeluargaan maupun sistem tata kelola ekonomi model koperasi seperti yang seharusnya diterapkan dan unggul di Indonesia.

Kesadaran yang menggetarka rasa untuk bersyukur dari setiap orang dapat menjadi awal pembuka jalan spiritual yang lebih intens dan khusuk memasuki wilayah religius yang lrboh sakral dalam memahami betapa pentingnya kecerdasan dan kemampuan spiritual bagi manusia untuk menjaga sekaligus mempertahankan harkat martabat dan kemuliaan agar tidak tergerus oleh arus perubahan jaman yang melabrak dan membentur apa saja seperti yang dirasaukan oleh Samuel Huntington, Francis Fukuyama dan sejumlah penilik masa depan umat manusia yang selalu meresahkan hati. Sementara jiwa dan raga sebagai sumber kehidupan dan spiritualitas manusia akan terus teruji dalam setiap jengkal dari proses perjalanan waktu yang tidak pernah sampai manusia yang merasakannya sendiri mati, seperti sumber daya penggerak sekaligus pembangkit dari spiritual itu sendiri. Begitulah, spiritualitas sebagai mesin penggerak kesadaran untuk membangun nilai-nilai luhur dalam hidup dan kehidupan manusia serta karakter dan kepribadian yang kuat bermartabat, tak mau memberi peluang sekecil apapun pada sikap khianat bukan saja kepada dirinya sendiri, tetapi juga tidak kakah penting bagi orang lain.

Sikap dan sifat yang kukuh dan kuat dalam karakter dan kepribadian serupa ini tidak hanya diperlukan oleh seorang pemimpin dalam bidang apapun, tetapi juga sangat diperlukan bagi seluruh rakyat agar dapat ikut menjaga dan membangun peradaban yang lebih mencerahkan bagi hidup dan kehidupan mamusia di bumi.

Banten, 28 Februari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *