
BANYUWANGI, – Jejakindonesia.news // Dari lapangan sederhana hingga panggung kompetisi tingkat Jawa Timur, langkah kecil Aisha Ahmad, siswi SD Negeri Model Banyuwangi, kini mulai menapaki jalan menuju mimpi besarnya di dunia olahraga basket.
Keikutsertaan Aisha dalam Liga Jatim KU-12 tahun 2026 bukan sekadar ajang pertandingan. Di balik itu, tersimpan harapan besar dari sang ayah, Nurachmad, yang ingin putrinya tumbuh menjadi pribadi tangguh, disiplin, dan penuh percaya diri.
“Yang terpenting bukan hanya menang, tapi bagaimana Aisha belajar berjuang, menghargai proses, dan tidak mudah menyerah,” ujarnya penuh keyakinan.
Di ajang ini, Aisha bersama timnya tergabung dalam grup yang cukup menantang, menghadapi tim-tim kuat seperti Warrior Surabaya, CLS Surabaya, Next Gen Surabaya, dan BIFFI Surabaya. Persaingan ketat ini justru menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi para atlet muda.
Head Coach Saputera menegaskan bahwa kompetisi ini adalah momentum penting untuk pembentukan karakter pemain sejak dini.
“Ini bukan hanya soal hasil akhir, tapi bagaimana anak-anak berani tampil, belajar dari setiap pertandingan, dan terus berkembang. Kami ingin mereka punya mental bertanding dan tidak takut menghadapi tim besar,” tegasnya.
Di usia dini, setiap latihan, setiap keringat, dan setiap pertandingan menjadi bagian dari proses panjang menuju masa depan. Liga Jatim menjadi batu loncatan penting untuk mengasah kemampuan sekaligus membuka jalan menuju Kejurprov hingga Kejurnas 2026.
Namun lebih dari sekadar prestasi, ada nilai besar yang sedang dibangun—mental juara, kerja keras, dan keberanian menghadapi tantangan.
“Harapan kami, Aisha tetap semangat, jaga kesehatan, dan terus berkembang. Kami selalu ada untuk mendukung setiap langkahnya,” tambah Nurachmad.
Di tengah kerasnya persaingan, kisah Aisha menjadi pengingat bahwa setiap mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil yang berani. Dengan dukungan keluarga dan semangat pantang menyerah, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Aisha akan berdiri sebagai atlet kebanggaan daerah.
Karena sejatinya, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang berlari, tetapi seberapa kuat ia bertahan dan terus melangkah tanpa takut gagal. (GP).

