
Banyuwangi – Jejakindonesia.news // Momentum Hari Raya Idulfitri yang seharusnya membawa ketenangan justru diwarnai keresahan masyarakat akibat kelangkaan LPG subsidi 3 kilogram di sejumlah wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tidak hanya sulit didapat, harga gas melon pun melambung jauh di atas ketentuan pemerintah.
Di lapangan, warga terpaksa membeli LPG dengan harga Rp 42 ribu hingga Rp 45 ribu per tabung, padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi ditetapkan sebesar Rp 18 ribu. Lonjakan harga ini dinilai sangat memberatkan, terutama bagi masyarakat kecil yang bergantung pada gas subsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
Purwanti, warga Desa Genteng, mengaku harus merogoh kocek hingga Rp 42 ribu untuk satu tabung LPG yang dibelinya pada Jumat lalu. Kondisi serupa dialami Atha Shinta yang menemukan harga mencapai Rp 45 ribu, bahkan di pangkalan resmi. Ironisnya, harga di daerah lain seperti Sidoarjo masih berada di kisaran Rp 20 ribu.
Hasil verifikasi di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Di tiga titik sekitar Genteng Wetan, terlihat jelas tulisan “LPG Kosong” terpampang di pangkalan. Sementara itu, dua agen di Desa Setail, Kecamatan Genteng, juga dilaporkan kehabisan stok.
Dari empat pengecer yang ditelusuri, hanya dua yang masih memiliki sisa LPG subsidi, itupun masing-masing hanya satu tabung dengan harga jual Rp 45 ribu dan Rp 35 ribu. Situasi ini menegaskan adanya ketimpangan distribusi yang serius di tingkat bawah.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan klaim PT Pertamina Patra Niaga yang sebelumnya menyatakan telah menambah pasokan sebesar 11 persen atau sebanyak 172.188 tabung LPG 3 kilogram guna memenuhi kebutuhan masyarakat selama Idulfitri. Fakta di lapangan justru menunjukkan distribusi tidak merata, bahkan terindikasi adanya permainan harga di tingkat pengecer maupun pangkalan.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sendiri telah menggelar operasi pasar sejak 17 Maret di berbagai kecamatan dengan mendistribusikan ratusan tabung LPG per titik. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu menjawab persoalan utama, yakni kelangkaan dan lonjakan harga yang masih terjadi hingga kini.
Situasi ini menuntut langkah tegas dari pemerintah dan aparat terkait untuk melakukan pengawasan menyeluruh terhadap distribusi LPG subsidi. Tanpa tindakan konkret, masyarakat kecil akan terus menjadi pihak yang paling dirugikan di tengah kebutuhan pokok yang semakin mendesak pasca perayaan Idulfitri.

