MINUT,— Jejakindonesia.news || Dugaan praktik mafia BBM subsidi kembali meledak dan kali ini menyeret jalur distribusi resmi milik negara. Satu unit mobil tangki berkode BTG-29 berkapasitas 8.000 liter diduga kuat “dibajak” di tengah perjalanan, mengalihkan muatan Bio Solar subsidi ke gudang pribadi di wilayah Kema, Kamis (19/03/2026).
BBM yang seharusnya dikirim ke SPBU Tumpaan justru “lenyap” tanpa jejak dalam jalur distribusi resmi. Hasil investigasi awal mengungkap fakta mencengangkan: seluruh muatan diduga dibongkar di gudang milik Frenly Rompas, yang diketahui mengelola PT Nusantar Geo Energi.
Lebih mengejutkan lagi, praktik ini diduga dilakukan secara terstruktur dan penuh rekayasa. Mobil tangki yang dikemudikan oleh Mencus Tatuil disinyalir sengaja mematikan sistem GPS sejak keluar dari Depot Pertamina Bitung. Tindakan ini kuat mengindikasikan adanya upaya sistematis untuk menghilangkan jejak distribusi.
Dengan GPS nonaktif, kendaraan seolah-olah masih berada di depot, padahal faktanya menyimpang jauh dari jalur resmi. Setelah diduga menurunkan seluruh muatan di gudang, mobil tangki kembali bergerak menuju SPBU Tumpaan untuk “mengamankan” administrasi distribusi. Ironisnya, tangki tersebut sudah dalam kondisi kosong—tanpa setetes pun BBM untuk dibongkar.
Skema ini diduga kuat tidak berdiri sendiri. Nama Wingly Angouw, yang disebut sebagai oknum petugas penerima BBM di SPBU Tumpaan, ikut terseret. Ia diduga berperan dalam “merapikan” catatan distribusi agar seolah-olah pengiriman berjalan normal.
Lebih parah lagi, Bio Solar subsidi tersebut disinyalir dijual secara ilegal dengan harga sekitar Rp9.700 per liter—praktik yang jelas merampas hak masyarakat kecil dan merugikan negara.
Jika terbukti, kasus ini bukan sekadar pelanggaran biasa. Ini adalah indikasi kuat adanya jaringan mafia BBM subsidi yang terorganisir, rapi, dan berani bermain di dalam sistem distribusi resmi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak Pertamina maupun aparat penegak hukum. Publik kini menanti langkah tegas: apakah kasus ini akan dibongkar hingga ke akar, atau kembali tenggelam seperti skandal mafia BBM lainnya?
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi pengawasan distribusi energi nasional. Negara tidak boleh kalah oleh mafia. Penegakan hukum harus berdiri di depan—bukan diam di belakang.
(Tim Investigasi)

