Banyuwangi – Jejakindonesia.news || Suasana rapat di UPT PPP Muncar menghangat. Nelayan setempat secara terbuka menyoroti kondisi Selat Bali yang dinilai sudah over kapasitas, khususnya dalam penangkapan ikan lemuru, Kamis (2/4/2026).
Dalam forum yang dihadiri unsur Satpolairud Polresta Banyuwangi, dinas perikanan, hingga perwakilan nelayan, aspirasi disampaikan lugas: pembatasan nelayan pendatang demi menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Sejumlah poin penting mencuat:
Selat Bali dianggap sudah penuh tekanan, penambahan nelayan pendatang dinilai berisiko.
Nelayan “boro” diminta tidak membawa kapal dan alat tangkap dari luar.
Prioritas hasil tangkap saat musim ikan untuk nelayan lokal Muncar.
Pendatang wajib lengkapi identitas dan administrasi resmi.
Langkah ini menjadi upaya bersama menjaga eksistensi ikan lemuru yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi pesisir Muncar.
Kanit Satpolairud Unit Muncar, Aipda I Wayan Wedhana, turut mengingatkan aspek keselamatan yang tak boleh diabaikan.
“Nelayan wajib lengkapi alat keselamatan, cek kondisi kapal, dan pantau cuaca dari sumber resmi sebelum melaut,” tegasnya.
Kasat Polairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muchammad Wahyudi, juga mengajak masyarakat tetap bijak, khususnya di tengah momentum arus balik Lebaran.
“Tetap sabar, patuhi aturan, jangan melawan arus, dan jangan mudah percaya informasi yang belum jelas kebenarannya,” pesannya.
Rapat berlangsung dinamis namun tetap kondusif. Sinergi antar pihak menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian laut.
Mari jaga Jawa Timur bersama—laut lestari, nelayan sejahtera, dan masyarakat tetap bersatu. (GP)





