JEMBER – Jejakindonesia.news || TAJEMTRA bukan sekadar gerak jalan. Tradisi yang lahir sejak 1977 itu kini menjelma menjadi salah satu penanda kuat identitas masyarakat Jember.
Buktinya terlihat pada pelaksanaan TAJEMTRA 2026.
Sebanyak 25.613 peserta tercatat ambil bagian. Angka tersebut menjadi jumlah peserta tertinggi dalam catatan pelaksanaan sejak 2015.
Puluhan ribu orang itu akan menempuh lintasan sekitar 29,4 kilometer. Mereka bergerak dari Alun-Alun Tanggul menuju Alun-Alun Jember.
Lintasan panjang tersebut menjadi semacam panggung raksasa. Peserta berjalan, warga menyambut, pedagang bergerak, komunitas tampil.
Aktivitas ekonomi dan sosial tumbuh mengikuti irama perjalanan.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember, Regar Jeane Dealen Nangka, S.STP., M.Si., menyebut kekuatan TAJEMTRA bukan semata pada jarak yang ditempuh.
Justru kebersamaan menjadi daya tahan tradisi tersebut.
“Sejak 1977 sampai sekarang, generasinya berganti tetapi semangat TAJEMTRA tetap sama. Tidak ada sekat. Pelajar, masyarakat umum, komunitas, ASN, pekerja, tua maupun muda berjalan di jalur yang sama,” ujar Regar.
Menurut dia, TAJEMTRA memiliki pesan sederhana tetapi kuat. Perjalanan panjang tidak selalu harus ditaklukkan dengan kecepatan.
Ketahanan dan kekompakan justru menjadi kunci.
“Ada yang lelah, ada yang menyemangati. Ada yang tertinggal, ada yang menunggu. Semangat seperti ini yang harus kita jaga dalam membangun Jember,” katanya.
Menariknya, TAJEMTRA tidak berhenti sebagai kompetisi olahraga.
Event tersebut berkembang menjadi pesta rakyat yang melibatkan masyarakat di sepanjang jalur.
Warga ikut meramaikan dengan berbagai aktivitas. UMKM dan pedagang mendapat ruang untuk mengais rezeki.
Komunitas menampilkan kreativitas. Peserta hadir dengan kostum, yel-yel dan atraksi yang membuat perjalanan puluhan kilometer itu jauh dari kesan monoton.
Fenomena tersebut menjadi modal besar untuk menjadikan TAJEMTRA bukan hanya tradisi yang dipertahankan, tetapi juga event yang memberikan dampak lebih luas.
Pemkab Jember pun mendorong agar penyelenggaraan TAJEMTRA ke depan tidak berhenti pada peningkatan jumlah peserta.
Dampak ekonomi dan promosi potensi daerah juga perlu diperkuat.
“Tradisi tidak cukup hanya dipertahankan. Tradisi harus diwariskan kepada generasi berikutnya, dibuat semakin menarik dan memberikan manfaat yang semakin luas,” tegas Regar.
Dengan rekor 25.613 peserta, TAJEMTRA 2026 menunjukkan satu hal: hampir setengah abad bukan waktu singkat untuk mempertahankan sebuah tradisi.
Namun, ketika tradisi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, ia tidak sekadar bertahan.
Ia terus tumbuh.
Dan setiap tahun, pertumbuhan itu diukur bukan hanya dari panjangnya lintasan Tanggul–Jember, tetapi dari semakin banyaknya masyarakat yang memilih berjalan bersama.
(Dodik)













