
Menteng – Jejakindonesia.news // Acara ngobrol menjelang waktu berbuka puasa ramadhan bersama, pada hari Rabu 25 Februari 2026 di Sekretariat Aspirasi Indonesia, Jl. Pati N0. 26, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menyelenggarakan acara Tobat Nasuha Nasional, telah dipastikan akan berlangsung pada 15 Maret 2026 di Gedung Dewan Dakwah Iskamiyah Indonesia ( DDII), Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Demikiam ungkap Wati Salam Ketua Aspirasi Indonesia pads acara buka puasa bersama para anggotanya dan panitia penyelenggara acara yang dimaksudkan juga untuk mendesak pemerintah memasukkan deklarasi yang dinyatakan pada 15 Maret 2022 masuk dalam kalender serta menjadi hari libur nasionai pada setiap 15 Maret saat deklarasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Anti Islamophobia itu dinyatakan secara resmi dan telah bergaung disejumlah negara, termasuk Indonesia.
Acara Tobat Nasuha Nasional yang melibatkan sejumlah tokoh dan pemuka agama ininyang juga dimaksudkan memperingati hari Anti Islamophobia ini, Asourasi Indonesia akan membagikan bingkisan leberan kepada sekitar 300 anak yatim piatu.
Acara yang akan dimulai pada pukul 10.00 pagi, akan diisi acara dialog — jika mungkin sikap bersama untuk Pertobatan Nasuha dalam skala nasional ini seperti pada waktu bersamaan akan dilakukan juga di Yogyakarta dalam bentuk pawai yang akan dipimpin langsung oleh tokoh agama masyarakat Yogya, Kiyai Sukri Fadholi, kata Wati Salam.
Menurut pernyataan resmi Panitia Pelaksana acara Tobat Nasuha Nasional, kegiatan ini untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, merekatkan ukhuwah serta mendorong kesadaran kolektif sebagai wujud tanggung jawab moral untuk memperbaiki nilai kebangsaan secara bersana seluruh warga masyarakat.
Tobat Nasuha — sebagai wujud pertobahan yang serius serta dengan kesadaran penuh — mengakui kesalan atau sejedar pembiaran terhadap beragam kerusakan yang terjadi, tak hanya sebatas fisik untuk diperbaiki secara bersama sebagai wujud dan rasa tanggung jawab moral untuk tidak diulangi atau tidak kemvali dibiarkan kembali berlangsung yang seperti yang telah banyak menimbulkan kerusakan serta kerugian bagi orang banyak.
Hakikat dari tobat naduhu secara nasional ini adalah ajakan kedadaran membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan, terutama yang sengaja dikakukan, termasuk kesalahan hingga kelalaian yang telah terjadi tergadap bangsa dan negara ini.
Yang tidak kalah penting dari tobat nasuha ini dalam perspektif spiritual adalah pengakuan pada kesalahan secara jujur dan rendah hati untuk berjanji pada diri sendiri, bahwa semua kesalahan dan kekekituan hingga kealfaan serta sikap abai terhadap kesakahan dan kerusakan yang terjadi — tidak kecuali yang dilakukan sendiri atau yang dikakukan oleh orang lain — harus dan wajib dicegah bersama secara nadional untuk tidak lagi terjadi di negeri ini.
Menteng, 11 Maret 2026

