Bali-jejakindonesia.news||Duka mendalam menyelimuti seorang peternak babi di Banjar Kayutulang, Canggu, Kuta Utara. Ketut Widanta yang akrab disapa Lelut Cellelut hanya bisa pasrah melihat puluhan ekor babi peliharaannya mati mendadak akibat serangan virus African Swine Fever (ASF). Total sebanyak 60 ekor babi mati dalam waktu singkat, membuat dirinya mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Dengan wajah penuh kesedihan, Ketut Lelut menceritakan bahwa sebanyak 20 ekor babi miliknya sebenarnya sudah siap panen. Umur babi tersebut sudah mencapai enam bulan dan tinggal menunggu waktu untuk dijual. Namun harapan itu sirna hanya dua minggu sebelum panen, ketika satu per satu babi mulai sakit lalu mati mendadak akibat virus ASF yang kini kembali menghantui para peternak.
Tidak hanya babi siap panen, ternak lainnya pun ikut tersapu wabah. Sebanyak 20 ekor babi usia empat bulan dan 20 ekor babi kecil usia dua bulan juga tidak berhasil diselamatkan. Kandang yang sebelumnya ramai dengan suara ternak kini berubah sunyi dan menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga peternak.
Bagi Ketut Lelut, ternak babi bukan sekadar usaha biasa, melainkan sumber utama penghidupan keluarga. Selama berbulan-bulan dirinya merawat ternak dengan penuh perhatian, membeli pakan dengan harga mahal, hingga berharap hasil panen bisa membantu kebutuhan ekonomi keluarga. Namun kini semuanya habis dalam hitungan hari.
“Sudah mau panen, tinggal dua minggu lagi. Tapi semua mati satu per satu. Saya sangat terpukul,” ungkapnya lirih.
Di tengah keterbatasan dan rasa putus asa, Ketut Lelut berharap ada perhatian serius dari pemerintah maupun pihak terkait terhadap nasib para peternak babi yang terdampak virus ASF. Ia mengaku tidak mampu menanggung sendiri kerugian besar yang dialaminya.
Menurutnya, wabah ASF sangat memukul peternak kecil karena modal yang dikeluarkan tidak sedikit. Ketika seluruh ternak mati, peternak kehilangan harapan, penghasilan, bahkan terancam terlilit utang.
Saat ini pihak Puskeswan Mengwi telah datang memberikan bantuan berupa dua botol besar cairan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus lebih luas. Namun bantuan tersebut dinilai belum cukup untuk memulihkan kerugian yang dialami peternak.
Ketut Lelut berharap ada bantuan nyata dan perhatian khusus bagi peternak babi di Bali, terutama mereka yang menjadi korban wabah ASF. Ia juga berharap pemerintah turun langsung memberikan solusi agar para peternak kecil bisa kembali bangkit dan melanjutkan usaha mereka.
Di balik kandang yang kini kosong dan sunyi, tersimpan harapan seorang peternak kecil yang hanya ingin kembali berdiri setelah dihantam musibah besar.













