Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Mbah Semar: Waktu Tidak Harus Diukur dengan Uang, Namun Harus Diisi dengan Ibadah dan Kemanfaatan

BANYUWANGI – Jejakindonesia.news // Kamis (18/6/2026), di tengah arus kehidupan modern yang semakin menempatkan materi dan keuntungan ekonomi sebagai ukuran utama keberhasilan, tokoh masyarakat yang akrab disapa Mbah Semar menyampaikan refleksi mendalam mengenai hakikat waktu, kehidupan, dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Menurutnya, salah satu kekeliruan yang kini banyak terjadi di tengah masyarakat adalah ketika waktu selalu dihitung berdasarkan nilai uang yang dapat dihasilkan. Padahal, tidak semua waktu harus dikonversi menjadi keuntungan materi. Ada nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar keuntungan finansial, yaitu nilai ibadah, pengabdian, dan kemanfaatan bagi sesama.

> “Waktu tidak harus diukur dengan uang, namun waktu harus terus digunakan untuk beribadah,” tegas Mbah Semar.

Pernyataan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengabaikan pentingnya bekerja atau mencari nafkah. Sebaliknya, Mbah Semar menegaskan bahwa bekerja secara jujur dan bertanggung jawab merupakan bagian dari ibadah. Namun ia mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada pola pikir yang menjadikan seluruh hidup hanya berorientasi pada keuntungan duniawi.

Menurutnya, perkembangan zaman telah melahirkan budaya kompetisi yang sangat tinggi. Banyak orang rela mengorbankan kesehatan, keluarga, bahkan ketenangan batin demi mengejar target ekonomi dan status sosial. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa kehilangan makna hidup meskipun secara materi telah mencapai berbagai pencapaian.

“Waktu yang diberikan Tuhan bukan hanya untuk mencari penghasilan. Ada waktu untuk beribadah, untuk menuntut ilmu, untuk membantu sesama, untuk membangun keluarga, dan untuk memperbaiki diri. Jika seluruh waktu hanya dihabiskan mengejar dunia, maka manusia akan kehilangan keseimbangan hidup,” ujarnya.

Mbah Semar menjelaskan bahwa uang pada hakikatnya hanyalah alat, sedangkan waktu adalah amanah. Uang yang hilang masih dapat dicari kembali melalui kerja keras, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah dapat dibeli ataupun diulang.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam memanfaatkan umur yang diberikan Tuhan. Setiap detik kehidupan hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk menambah amal kebaikan dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Ia juga menyoroti fenomena masyarakat yang sering menunda ibadah, menunda berbuat baik, atau menunda mempererat silaturahmi dengan alasan kesibukan pekerjaan. Padahal, kata dia, tidak ada jaminan bahwa seseorang akan memiliki kesempatan yang sama di masa mendatang.

“Sering kali kita menghitung berapa uang yang masuk setiap hari, tetapi jarang menghitung berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan. Kita sibuk mengejar target dunia, namun lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih panjang setelah dunia ini,” katanya.

Lebih lanjut, Mbah Semar menekankan bahwa konsep ibadah tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan semata. Membantu orang yang membutuhkan, menjaga kejujuran dalam pekerjaan, menghormati orang tua, mendidik anak dengan baik, menjaga lingkungan, hingga memberikan manfaat bagi masyarakat merupakan bentuk ibadah yang memiliki nilai luhur di hadapan Tuhan.

Menurutnya, manusia yang paling beruntung bukanlah mereka yang memiliki harta paling banyak, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan waktunya untuk menghasilkan manfaat yang luas bagi kehidupan orang lain.

“Ketika usia berakhir, yang akan dikenang bukan jumlah kekayaan yang dimiliki, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Harta bisa habis, jabatan bisa berakhir, tetapi amal baik akan terus menjadi warisan nilai bagi generasi berikutnya,” tuturnya.

Di akhir pesannya, Mbah Semar mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan waktu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbanyak amal saleh, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.

> “Pada akhirnya, manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi bagaimana ia menggunakan waktu, kesempatan, dan amanah yang telah diberikan Tuhan selama hidup di dunia. Karena waktu adalah kehidupan itu sendiri, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban,” pungkas Mbah Semar.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus materialisme dan persaingan hidup, manusia tetap membutuhkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Sebab sejatinya, nilai tertinggi dari waktu bukanlah berapa rupiah yang dihasilkan, melainkan berapa banyak ibadah, manfaat, dan kebaikan yang mampu diwujudkan selama hayat masih dikandung badan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *