BANYUWANGI – Jejakindonesia.news // Jum`at (19/6), Di era ketika popularitas sering dianggap sebagai ukuran kebahagiaan, tokoh masyarakat yang akrab disapa Mbah Semar, Selamet Solichin, menyampaikan kritik sosial yang tajam tentang kehidupan modern yang semakin dipenuhi hiruk-pikuk namun miskin ketenangan batin.
Menurutnya, tidak sedikit orang yang tampak bahagia di hadapan publik, tertawa di tengah keramaian, dan dikelilingi banyak orang, tetapi sesungguhnya sedang kehilangan arah dalam perjalanan hidupnya.
“Di tengah keramaian, banyak yang tertawa namun kehilangan arah. Sebab kebahagiaan bukan milik yang paling ramai, melainkan milik hati yang dekat dengan iman,” ujar Mbah Semar.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa gemerlap kehidupan, pujian manusia, maupun ramainya lingkungan pergaulan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan jiwa. Banyak orang terlihat kuat di luar, tetapi menyimpan kegelisahan yang tidak diketahui siapa pun.
Mbah Semar menilai, manusia sering terjebak dalam perlombaan mengejar pengakuan dan popularitas, hingga lupa membangun hubungan dengan Tuhan. Akibatnya, kehidupan menjadi penuh pencapaian materi namun kosong dari makna spiritual.
Menurutnya, iman adalah kompas yang menjaga manusia agar tidak tersesat oleh gemerlap dunia yang sementara. Ketika hati dekat dengan nilai-nilai keimanan, seseorang akan mampu menemukan ketenangan meskipun berada dalam kesederhanaan dan kesunyian.
“Keramaian bisa membuat seseorang lupa pada dirinya sendiri. Namun iman akan selalu mengingatkan dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya tepuk tangan atau ramainya lingkungan sekitar, melainkan dari hati yang mampu berdamai dengan dirinya sendiri serta tetap teguh dalam keimanan di tengah berbagai godaan zaman.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan dan perlombaan status sosial, pesan Mbah Semar hadir sebagai kritik sekaligus nasihat: jangan sampai hidup terlihat meriah di luar, tetapi kehilangan cahaya iman di dalam.













