BANYUWANGI – Jejakindonesia.news // Jum’at (19/6), di tengah kemajuan teknologi yang menjanjikan kemudahan, manusia justru menghadapi ancaman yang semakin sulit dikenali. Jika dahulu godaan datang dalam bentuk yang jelas terlihat, kini ia hadir melalui kenyamanan, hiburan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia yang perlahan membuat manusia terlena.
Tokoh masyarakat yang akrab disapa Mbah Semar menilai bahwa salah satu ciri zaman akhir adalah ketika manusia tidak lagi dipaksa untuk meninggalkan kebenaran, melainkan dibuat merasa nyaman dalam kelalaian. Menurutnya, inilah bentuk manipulasi paling halus yang sering tidak disadari banyak orang.
“Iblis tidak selalu menjerumuskan manusia melalui penderitaan. Justru ia sering masuk melalui kesenangan. Ketika manusia terlalu menikmati dunia, ia akan lupa untuk bertanya ke mana arah hidupnya dan untuk apa ia diciptakan,” ujarnya.
Mbah Semar menyoroti fenomena masyarakat modern yang semakin terobsesi pada pencitraan dan pengakuan. Ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari jumlah harta, jabatan, pengikut di media sosial, hingga kemewahan yang dipamerkan di ruang publik.
Akibatnya, banyak orang rela mengorbankan waktu, keluarga, kesehatan, bahkan nilai-nilai agama demi mengejar sesuatu yang sebenarnya bersifat sementara.
“Hari ini manusia tidak kekurangan hiburan, tetapi kekurangan ketenangan. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan hikmah. Tidak kekurangan teman di media sosial, tetapi kehilangan kedekatan dengan Tuhan,” tegasnya.
Menurutnya, manipulasi terbesar yang sedang terjadi bukanlah ketika manusia melakukan kesalahan, melainkan ketika kesalahan itu dianggap biasa. Kemaksiatan dipandang sebagai kebebasan, kesombongan dianggap prestasi, dan gaya hidup berlebihan dipuji sebagai simbol kesuksesan.
Fenomena tersebut, kata Mbah Semar, membuat batas antara kebenaran dan hawa nafsu semakin kabur. Banyak orang merasa dirinya baik-baik saja, padahal perlahan sedang menjauh dari nilai-nilai spiritual yang menjadi pondasi kehidupan.
“Yang berbahaya bukan saat manusia jatuh dalam dosa, tetapi ketika ia tidak lagi merasa bersalah. Ketika hati sudah terbiasa dengan kelalaian, maka nasihat dianggap gangguan dan kebenaran dianggap ancaman,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa dunia tidak pernah dilarang untuk dinikmati. Namun dunia akan menjadi petaka ketika berubah dari sarana menjadi tujuan utama kehidupan.
“Dunia seharusnya berada di tangan, bukan di hati. Ketika hati dipenuhi ambisi dunia, maka manusia akan menghalalkan segala cara demi mendapatkannya. Di situlah iblis memenangkan permainannya tanpa perlu menunjukkan wajahnya,” ungkap Mbah Semar.
Menutup pesannya, ia mengajak masyarakat untuk kembali memperkuat iman, memperbanyak ibadah, serta membangun kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara.
“Zaman akhir bukan hanya ditandai oleh banyaknya kerusakan, tetapi juga ketika manusia merasa nyaman dalam kesesatan. Jangan sampai kita sibuk mengejar apa yang akan ditinggalkan, sementara melupakan apa yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan,” pungkasnya.













