Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Tiga Karyawan Sense Beach Canggu Hotel Diduga Lecehkan Siswi Praktik di Kitchen hingga Loker 

Besok||Program On The Job Training (OJT) yang semestinya menjadi ruang bagi pelajar menimba pengalaman kerja justru berubah menjadi pengalaman yang membuat seorang siswi SMK di Bali trauma. Siswi kelas XII jurusan Kuliner, sebut saja Bunga, yang menjalani OJT di Sense Canggu Beach Hotel, melaporkan dugaan pelecehan seksual yang disebut dilakukan oleh tiga karyawan hotel.

Namun di sisi lain manajemen hotel saat dikonfirmasi justru membantah bahwa aksi dugaan pelecehan itu tidak benar. Untuk diketahui, berdasarkan pengaduan Bunga secara tertulis yang diperoleh awak media, Bunga melayangkan pengaduan resmi kepada General Manager Sense Canggu Beach Hotel tertanggal 30 September 2026.

Sekolah meminta manajemen hotel melakukan pemeriksaan dan investigasi menyeluruh terhadap dugaan tindakan yang dialami siswi tersebut. Dalam surat pengaduan, sekolah menegaskan tidak ingin mendahului proses pemeriksaan maupun mengambil kesimpulan atas laporan tersebut.

Namun, sebagai institusi pendidikan yang bertanggung jawab terhadap keselamatan peserta didik, Bunga dan sekolah meminta agar dugaan tersebut ditangani secara serius dan profesional. Berdasarkan laporan kronologi yang dibuat korban pada 29 September 2026, dugaan tindakan tidak pantas disebut terjadi dalam beberapa kesempatan selama korban menjalani OJT.

“Tiga karyawan yang dilaporkan masing-masing berinisial K, M, dan S,” tertulis dalam laporan pengaduan tersebut.

Surat pengaduan siswa juga tembuasannya dikirim ke sejumlah instansi terkait seperti Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga (Disdikpora) Bali dan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Badung. Kejadian pertama disebut terjadi pada suatu sore di area Kitchen. Bunga mengaku didatangi seorang karyawan bagian Engineering yang dikenal dengan panggilan K. Dalam laporan tertulisnya, korban menyebut karyawan tersebut menarik bagian belakang kerah bajunya dan melontarkan perkataan bernuansa seksu*l. Tidak berhenti di sana. Dalam kesempatan berbeda di area pencucian piring, korban juga mengaku mendapat tindakan fisik berupa cubitan pada bagian punggung. Berikutnya

Korban kemudian mengaku memilih diam ketika kembali bekerja. Namun, dalam laporan tersebut disebutkan dirinya justru mendapat komentar dari karyawan yang sama karena dianggap merajuk atau cemberut. Dugaan kejadian kedua disebut berlangsung, di sekitar area loker pada Sabtu, 19 September 2026 sekitar pukul 09.50 Wita.

Ia mengaku baru keluar dari toilet dan berada di sekitar loker. Seorang karyawan bagian Gardener berinisial M disebut keluar dari loker laki-laki dan kemudian melihat korban.

Menurut pengakuan, M kemudian mendorongnya ke arah loker laki-laki. Korban mengaku sempat melakukan perlawanan hingga kepalanya terbentur loker. Dalam kondisi tersebut, korban melaporkan adanya kontak fisik pada bagian tubuhnya. Ia kemudian berusaha melepaskan diri dan melarikan diri dari lokasi.

Dugaan kejadian berikutnya dilaporkan berlangsung pada Selasa, 22 September 2026 di area Kitchen. Seorang karyawan Engineering berinisial S disebut mencarinya untuk meminta kunci sepeda motor. Korban mengaku sempat menolak memberikan kunci lantaran sepeda motornya tidak memiliki bahan bakar. Dalam laporan tersebut, gadis ini menyebut terjadi tindakan fisik dan pelecehan sek*ual sebelum akhirnya ia berusaha meninggalkan lokasi.

Rangkaian kejadian yang dilaporkan tersebut disebut berdampak terhadap kondisi psikologis korban. Ia mengaku merasa takut, cemas, tidak aman berada di lingkungan kerja, hingga khawatir ketika harus berpapasan dengan karyawan yang dilaporkan.

Korban disebut baru berani menceritakan pengalaman tersebut kepada rekan kerjanya pada Rabu, 23 September 2026. Saat itu, dua rekan korban disebut melihat perubahan sikapnya yang lebih murung. Setelah didesak secara halus, korban akhirnya menceritakan dugaan kejadian yang dialaminya.

Rekannya kemudian menyarankan agar persoalan tersebut disampaikan kepada bagian HRD hotel. Korban selanjutnya mengaku menemui seorang staf HRD berinisial SA. Kepada pihak HRD, korban menceritakan sejumlah kejadian yang dialaminya selama menjalani OJT.

Dalam kronologi yang dibuat korban, pihak HRD kemudian meminta agar persoalan tersebut untuk sementara dirahasiakan sembari dilakukan pengecekan. Korban bersama salah seorang rekannya disebut kemudian ikut dalam proses pengecekan CCTV di sejumlah lokasi.

Korban juga menyebut terdapat komunikasi melalui pesan pribadi dengan pihak HRD terkait kronologi kejadian. Selain itu, disebut terdapat pemeriksaan rekaman CCTV di area Kitchen dan lokasi lain yang berkaitan dengan laporan. Persoalan tersebut kemudian disebut berlanjut ke pertemuan antara korban, pihak HRD, manajemen, dan salah seorang karyawan yang dilaporkan.

“Dalam pertemuan itu, menurut kronologi korban, karyawan tersebut diminta menyampaikan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya,” kutipan dalam laporan tertulis tersebut. Meski demikian, rasa takut korban disebut belum hilang.

Korban bahkan mengaku tidak masuk kerja selama beberapa hari karena masih merasa cemas dan tidak nyaman. Hingga akhirnya, korban datang kembali ke hotel bersama guru pembimbing dan orang tuanya untuk membicarakan persoalan tersebut. Atas persoalan tersebut, pihak Sekolah meminta manajemen hotel melakukan investigasi internal secara menyeluruh.

Pemeriksaan diharapkan melibatkan korban, para karyawan yang dilaporkan, saksi, serta pihak lain yang mengetahui kejadian. Sekolah juga meminta seluruh rekaman CCTV yang berkaitan dengan dugaan kejadian diamankan dan dipertahankan, khususnya rekaman di area Kitchen, loker, maupun lokasi lain yang relevan dengan tanggal kejadian. Selain itu, sekolah meminta pihak hotel memberikan tanggapan resmi secara tertulis mengenai tindak lanjut yang dilakukan.

Sekolah juga meminta koordinasi dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap pelaksanaan OJT korban. Pihak sekolah menekankan bahwa program OJT bukan sekadar memberikan pengalaman kerja kepada siswa, melainkan bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter profesional.

Dikonfirmasi terpisah, Selasa (6/10), perwakilan manajemen Sense Canggu Hotel melalui Ni Made Sintia Defi, Assistant Operational Manager membantah hal tersebut, dan menceritakan fakta yang terjadi versi manajemen hotel.

Ni Made Sintia Defi mengatakan terkait dugaan tersebut tidak terjadi, yang terjadi hal itu seperti bercandaan. Mungkin dari pihak perempuan (siswa) saat itu merasa tidak mood, sehingga menanggapi hal itu dengan serius.

Sebelumnya juga manajemen hotelh telah konfirmasi dengan pihak sekolah, siswa dan orangtuanya untuk klarifikasi dan mediaasi hal tersebut. Manajemen juga telah melakukan pengecekan CCTV untuk mengetahui kebenaran persoalan.

Dan dari pihak sekolah berikut juga dengan orangtua dan anaknya, sepakat untuk tidak melanjutkan persoalan ini karena hanya sebuah kesalahapahaman. Dia menjelaskan, manajemen melakukan pemanggilan terhadap karyawan juga headnya.

Satu persatu dipanggil untuk menanyakan kebenaran hal tersebut. Manajemen juga telah memberikan surat peringatan satu (SP1) kepada karyawan sembari menelusuri kebenaran persoalan.

Manajemen juga, menurutnya telah menjatuhkan surat peringatan pertama kepada para karyawan. Manajemen Sense juga akan melakukan pengawasan ketat terhadap para karyawan selama enam bulan kedepan.

“Kami juga telah memberikan sertifikat kepada siswa, juga memberikan rasa aman kepadanya setelah kejadian,” ujarnya.

Sintia menambahkan bahwa menurut informasi siswi tersebut juga pernah terlibat persoalan serupa di tempat berbeda beberapa waktu lalu. Kedepan, manajemen akan memberikan sosialisasi dan edukasi kepada semua karyawan juga kepada para siswa on the job training selama berada di hotel.

Setelah dua hari upaya konfirmasi, pada Selasa (6/10) dan Rabu (7/10), pihak sekolah akhirnya memberanikan diri dan bersedia memberikan penjelasan pada Kamis (8/10).

Perwakilan sekolah yang meminta identitasnya tak ditulis membenarkan bahwa sekolah telah mengirim pengeluhan dugaan pelecehan oleh karyawan Sense Beach Hotel Canggu ke manajemen hotel sekaligus meneruskan surat tersebut ke Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali serta Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Badung.

Langkah itu ditempuh setelah sekolah menerima laporan dari siswi yang tengah menjalani program On The Job Training (OJT) hotel tersebut.

Pihak sekolah menegaskan, penyampaian surat tersebut sebagai upaya perlindungan terhadap siswi. Surat tersebut bukan untuk mendahului proses pemeriksaan ataupun menyimpulkan dugaan yang disampaikan siswi.

Sekolah memilih mengirim tembusan surat ke sejumlah instansi terkait sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus memastikan laporan peserta didik mendapat perhatian sesuai mekanisme yang berlaku oleh seluruh pihak terkait.

“Sekolah memiliki tanggung jawab menjaga siswi agar tidak tertekan secara psikologi selama proses klarifikasi berlangsung,” jelas perwakilan sekolah ketika ditemui di lingkungan sekolah Kamis (8/10).

Pihak sekolah menegaskan, yang dihadapi bersama adalah perilaku menyimpang yang diakukan oleh oknum – oknum pegawai hotel, dan sekolah tidak ada masalah dengan manajemen hotel.

Sekolah juga berharap persoalan tersebut dapat ditangani secara proporsional dengan tetap memberikan ruang kepada seluruh pihak untuk menyampaikan keterangan dan bukti. Menurutnya, kepentingan utama sekolah adalah memastikan pelindungan dan keamanan siswinya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!