Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Banyuwangi Minta Ubah Arah Kebijakan Makanan Bergizi & Komite Sekolah,Suara Pers:Indah Fitriyah Razak,Di Balik Niat yang Terluka,

 BANYUWANGI –jejakindonesia.news|| Kebijakan yang lahir dari visi mulia demi kesehatan generasi muda, kini justru menjadi beban yang membuat masyarakat “menahan napas”. Demikian diamati Indah Fitriyah Razak, Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) PD Banyuwangi, saat menanggapi keluhan yang terus terdengar dari pelosok desa hingga pinggiran kota.

Sebagai jurnalis yang setiap hari mendengar keluh kesah warga, Indah mengaku ingin “menancapkan genderang kebenaran” agar didengar para pembuat kebijakan di pusat. Menurutnya, Program Makanan Bergizi (MBG) serta aturan terkait komite sekolah kini kerap menjadi “mimpi buruk” dalam percakapan masyarakat—padahal visi, misi, dan tujuan awalnya sangat mulia.

“Di atas kertas, niatnya sangat indah. Namun saat turun ke lapangan, proses pelaksanaannya jauh dari apa yang dijanjikan. Begitu juga dengan pengaturan yang melibatkan komite sekolah, rasanya menjadi beban tambahan yang melelahkan semua pihak,” ungkap Indah dengan nada prihatin.

Ia menilai keberadaan program tersebut tidak lagi mendesak, karena setiap sekolah sudah memiliki kantin dan koperasi sekolah yang mampu melayani kebutuhan makan siswa. Lebih dari itu, orang tua dianggap paling paham kebutuhan asli anak‑anaknya—mulai dari selera, kondisi kesehatan, hingga pantangan makanan.

“Tidak ada orang tua yang tidak mengerti apa yang dibutuhkan perut dan tubuh anaknya. Sebelum ada MBG, anak‑anak kita tetap tumbuh sehat. Kenapa sekarang justru terasa rumit dan memberatkan?” tegasnya.

Indah menyarankan sebaiknya program MBG dan pengaturan komite yang dirasa tumpang‑tindih dihentikan saja. Anggaran besar yang dialokasikan sebaiknya dialihkan untuk dua hal yang jauh lebih dirasakan dampaknya: pendidikan gratis mulai SD hingga SLTA, serta pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis bagi seluruh masyarakat.

Menurutnya, pendidikan dan kesehatan adalah fondasi utama yang membuat rakyat benar‑benar lega, bukan program yang niatnya baik namun pelaksanaannya meleset jauh.

“Pemerintah seharusnya berpikir lebih bijak. Dengarkan suara yang datang dari bawah, bukan hanya laporan di atas meja. Biarkan sekolah mengelola makan siswa lewat kantin dan koperasinya sendiri, biarkan orang tua berperan penuh lewat komite yang tidak dibebani aturan kaku. Ubah arah anggaran demi masa depan yang lebih nyata,” pungkas Indah Fitriyah Razak.

Suara ini menjadi salah satu gema kritis dari Banyuwangi yang kini bergabung dengan suara‑suara masyarakat lain di berbagai daerah, berharap kebijakan lebih berpihak pada kenyataan, bukan sekadar rencana yang tertulis rapi di atas kertas. BY REDAKSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *