BADUNG – Jejakindonesia.news || Upaya meningkatkan standar keamanan dan keselamatan di industri pariwisata Bali terus diperkuat. Basis Keamanan dan Keselamatan Bali (BASIS Bali) bekerja sama dengan Balawista Indonesia menggelar Basic Pool Rescue Training selama dua hari, Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026, bertempat di Kolam Renang Tirta Yasa, Desa Mambal, Kabupaten Badung.
Pelatihan ini diikuti 37 peserta dari berbagai hotel dan beach club di Bali. Kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada kemampuan berenang, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dasar penyelamatan di kolam renang serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di lingkungan kerja.
Sejumlah peserta dan pengurus BASIS Bali yang mengikuti kegiatan ini juga tercatat telah memiliki ijazah Gada Utama, yakni:
1. Dewa Wisarjana
2. Putu Sugiarta
3. Nyoman Sariana/Dede
4. Putra Supmana
5. Wayan Antara Kusuma/Jro Ibon
6. Gusti Agung Kamajaya
Pembukaan Basic Pool Rescue Training turut dihadiri Kepala Balawista Bali I Made Suparka. Dalam arahannya, Suparka menekankan pentingnya peningkatan kemampuan penyelamatan bagi personel keamanan, terutama mereka yang bekerja di sektor perhotelan dan industri pariwisata.
Menurut Suparka, security memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem keamanan hotel. Mereka merupakan salah satu unsur yang tetap berada di lingkungan hotel ketika sebagian karyawan lainnya telah menyelesaikan jam kerja.
Apalagi, menurutnya, saat ini sejumlah hotel telah memiliki Quick Responder Group atau tim respons cepat, dan personel security kerap memegang peranan penting ketika muncul situasi darurat.
“Security sangat penting di hotel. Ketika yang lain sudah selesai bekerja, siapa yang masih ada di sekitar lingkungan hotel? Yang pasti security. Karena itu security harus menambah ilmu dan kemampuan,” ujar I Made Suparka, Sabtu (19/9/2026).
Ia menjelaskan, keberadaan kolam renang di hampir setiap hotel menjadi salah satu alasan kemampuan dasar penyelamatan di air penting dikuasai. Meskipun sebagian kolam memiliki kedalaman relatif rendah, risiko kecelakaan tetap dapat terjadi sewaktu-waktu.
Kondisi tersebut semakin relevan pada hotel maupun tempat hiburan yang banyak menerima wisatawan. Suparka mencontohkan tamu yang kembali ke hotel setelah mengonsumsi minuman beralkohol dapat menghadapi risiko kecelakaan, termasuk terjatuh ataupun mengalami kondisi darurat di sekitar kolam.
Namun, ia mengingatkan bahwa risiko kecelakaan tidak hanya berada di air.
Kecelakaan dapat terjadi di berbagai bagian hotel, mulai dari area front office, kamar, kamar mandi, lorong, hingga area lain dengan permukaan yang licin. Seorang tamu bisa terpeleset atau terjatuh dan membutuhkan pertolongan cepat sebelum penanganan medis lanjutan tersedia.
Karena itulah, Suparka berpandangan kemampuan dasar keselamatan dan pertolongan tidak semestinya hanya dimiliki lifeguard.
“Bukan lifeguard saja yang harus di-training, bukan security saja. Seluruh komponen pegawai dan karyawan yang ada di hotel perlu menambah ilmunya,” tegasnya.
Menurut Suparka, pelatihan berkala juga memiliki fungsi penting untuk mempertahankan kesiapan personel. Pengetahuan dan keterampilan penyelamatan tidak cukup diberikan sekali, tetapi perlu terus dilatih dan disegarkan agar ketika kondisi darurat benar-benar terjadi, petugas mampu memberikan respons yang cepat dan tepat.
Ia mencontohkan pengelolaan keselamatan pada wahana permainan air yang setiap harinya dapat menerima ribuan pengunjung. Tingginya jumlah pengunjung tentu harus diimbangi dengan kesiapan personel keselamatan.
“Petugas lifeguard dan attendant mereka terus dilatih. Ada sekitar 150 orang dan mereka di-training dua kali dalam setahun, terus diingatkan dan di-refresh agar jangan sampai terjadi kecelakaan,” kata Suparka.
Suparka sendiri baru kembali dari kegiatan memberikan pelatihan lifeguard di Ambon. Pengalaman tersebut semakin menegaskan pentingnya membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan penyelamatan, khususnya pada sektor pariwisata dan fasilitas yang berkaitan langsung dengan aktivitas air.
BASIS Bali Dorong Profesionalisme Personel Keamanan
Kegiatan Basic Pool Rescue Training tersebut juga menjadi bagian dari komitmen BASIS Bali dalam mendorong peningkatan profesionalisme sumber daya manusia bidang keamanan dan keselamatan.
BASIS Bali dipimpin Ketua Dewa Wisarjana, didampingi Wakil Ketua Wayan Antara Kusuma atau Jro Ibon, serta Sekretaris Jenderal Putu Sugiarta.
Pelatihan yang menggandeng Balawista Indonesia ini diharapkan dapat memperluas perspektif personel keamanan bahwa tugas security di lingkungan pariwisata bukan sebatas menjaga pintu masuk, mengawasi aset, melakukan patroli atau memastikan ketertiban.
Di tengah perkembangan industri pariwisata, personel keamanan juga dituntut mempunyai kesiapan menghadapi keadaan darurat dan kemampuan mengambil tindakan awal ketika keselamatan manusia terancam.
Terlebih Bali merupakan destinasi pariwisata internasional dengan aktivitas hotel, resort, villa, beach club, water park, restoran dan berbagai fasilitas wisata yang sangat tinggi. Standar keamanan dan keselamatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas pelayanan kepada wisatawan.
Kecepatan respons pada menit-menit awal suatu kecelakaan dapat menjadi faktor yang sangat penting. Karena itu, peningkatan kompetensi melalui pelatihan seperti Basic Pool Rescue Training menjadi investasi sumber daya manusia yang memiliki nilai strategis bagi industri pariwisata.
Bagi personel security, kemampuan tambahan tersebut sekaligus memperkuat profesionalisme profesi. Security tidak semata-mata hadir ketika terjadi gangguan keamanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem tanggap darurat di lingkungan kerjanya.
Kolaborasi antara BASIS Bali dan Balawista Indonesia melalui pelatihan dua hari ini diharapkan dapat mendorong semakin banyak perusahaan di sektor pariwisata untuk memberikan pembekalan keselamatan secara berkala kepada karyawannya.
Dengan personel yang terlatih, risiko dapat diantisipasi lebih dini, respons terhadap keadaan darurat dapat dilakukan lebih cepat, dan standar keselamatan bagi wisatawan maupun pekerja dapat terus ditingkatkan.
Pada akhirnya, keamanan dan keselamatan bukan hanya tanggung jawab lifeguard atau security, melainkan tanggung jawab bersama seluruh unsur yang bekerja di industri pariwisata.
Basic Pool Rescue Training di Mambal menjadi salah satu langkah konkret untuk membangun budaya tersebut: meningkatkan pengetahuan, mengasah keterampilan, memperkuat kesiapsiagaan, dan memastikan personel tidak panik ketika harus berhadapan dengan kondisi darurat yang sesungguhnya.













