Jakarta – jejakindonesia.news||Dari sebuah desa di wilayah utara Pulau Bali, lahirlah sosok perwira kepolisian yang dikenal tegas, disiplin, dan penuh pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia adalah Kombes Pol Dewa Wijaya, putra terbaik asal Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, yang telah menorehkan perjalanan panjang dalam dunia penegakan hukum, operasi khusus, hingga misi kemanusiaan berskala nasional.
Nama Dewa Wijaya bukan hanya dikenal sebagai perwira kepolisian biasa, melainkan figur polisi lapangan yang memiliki pengalaman lengkap dalam berbagai operasi penting negara. Di balik ketegasan dan kepemimpinannya, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan, pengorbanan, serta loyalitas tanpa batas terhadap tugas dan pengabdian.
Kombes Pol Dewa Wijaya merupakan Alumni Sekolah Penerbang TNI-AU Angkatan 55/PSDP XII dan lulus pada tahun 1998 Matra Kepolisian. Pendidikan penerbang yang ditempuhnya menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter disiplin, keberanian, serta kemampuan pengambilan keputusan di situasi kritis.
Sebelum dikenal luas sebagai perwira kepolisian, Dewa Wijaya merupakan bagian dari tim khusus Polisi Udara dan aktif sebagai pilot. Berbagai latihan intensif, pendidikan keras, hingga penugasan di daerah konflik baik di dalam maupun luar negeri telah membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh di lapangan.
Pengalaman panjang tersebut membuatnya memahami bahwa tugas seorang anggota kepolisian bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban negara, melainkan menjaga keselamatan masyarakat dalam berbagai kondisi, termasuk saat menghadapi ancaman yang membahayakan nyawa.
Namanya mulai mendapat perhatian nasional ketika tim yang dipimpinnya dari Pol Airud terlibat dalam penanganan aksi teror di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016. Peristiwa tersebut menjadi salah satu aksi teror besar yang mengguncang Indonesia dan mendapat sorotan dunia internasional.
Dalam situasi penuh ancaman dan kepanikan, Dewa Wijaya bersama jajarannya bergerak cepat melakukan pengamanan dan penindakan terhadap pelaku teror. Kecepatan bertindak, ketegasan mengambil keputusan, serta kemampuan memimpin di tengah situasi darurat menjadi bukti profesionalisme yang telah lama dibangun selama bertugas di lapangan.
Kariernya kemudian terus berkembang di lingkungan Polda Metro Jaya. Ia beberapa kali dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Kasat Reskrim dan menangani berbagai kasus kejahatan umum maupun kejahatan khusus. Pengalaman panjang dalam penanganan kasus-kasus besar menjadikan dirinya dikenal sebagai sosok perwira yang tegas, berpengalaman, dan memiliki integritas tinggi dalam penegakan hukum.
Menurut Dewa Wijaya, polisi harus hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan hukum, tetapi juga menjadi bagian dari rasa aman masyarakat.
“Seorang anggota polisi harus selalu hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat ada masalah, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan rasa aman dan kepastian,” ujar Kombes Pol Dewa Wijaya.
Tak hanya dikenal dalam bidang penegakan hukum dan operasi keamanan, Dewa Wijaya juga menunjukkan sisi kemanusiaannya saat gempa bumi berkekuatan 7,0 SR mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus 2018.
Saat menjabat sebagai Kasatrolda Pol Air Polda NTB, ia memimpin langsung proses evakuasi ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara dari kawasan Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air menuju Pelabuhan Bangsal. Dalam operasi kemanusiaan tersebut, jajaran Polair Polda NTB mengerahkan sejumlah kapal untuk mengevakuasi lebih dari 2.700 wisatawan guna menghindari dampak gempa susulan yang terus terjadi.
Di tengah situasi penuh kepanikan, Dewa Wijaya turun langsung ke lapangan menenangkan wisatawan yang ketakutan dan memastikan proses evakuasi berjalan aman. Ketegasan dan ketenangannya saat menghadapi bencana menjadi perhatian media nasional maupun internasional.
“Dalam situasi bencana, yang paling utama adalah menyelamatkan nyawa dan memastikan masyarakat merasa tidak sendiri menghadapi keadaan,” kata Dewa Wijaya terkait operasi evakuasi saat gempa Lombok.
Pengabdiannya terhadap masyarakat tidak berhenti setelah proses evakuasi selesai. Pasca bencana, Dewa Wijaya juga menginisiasi pendirian Yayasan NTB Bersatu sebagai wadah penyaluran bantuan sosial dan percepatan pemulihan wilayah terdampak gempa di Pulau Lombok.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengabdian seorang aparat tidak hanya diukur dari keberhasilan operasi keamanan, tetapi juga dari kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Dengan pengalaman di bidang antiteror, reserse kriminal, penerbangan, hingga operasi kemanusiaan, Kombes Pol Dewa Wijaya dikenal sebagai figur polisi lapangan yang memiliki kombinasi kepemimpinan, keberanian, ketegasan, serta kepedulian sosial yang kuat.
Sebagai putra terbaik Desa Bongancina, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, perjalanan hidup Dewa Wijaya menjadi inspirasi bahwa kerja keras, disiplin, dan loyalitas terhadap negara mampu membawa seseorang mengabdikan diri secara luas bagi bangsa dan masyarakat.
Dedikasi tanpa batas ruang dan waktu yang ditunjukkan Kombes Pol Dewa Wijaya menjadi bukti bahwa pengabdian sejati bukan hanya tentang jabatan dan pangkat, tetapi tentang keberanian untuk selalu hadir bagi negara dan kemanusiaan.













