Opini – Jejakindonesia.news //
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, muncul sebuah fenomena yang sering dikeluhkan masyarakat, yakni kondisi ketika yang benar justru disalahkan, sementara yang salah malah mendapatkan pembelaan. Fenomena ini kerap disebut sebagai gambaran dari “zaman edan”, sebuah istilah yang telah lama dikenal dalam budaya Jawa untuk menggambarkan keadaan ketika nilai-nilai moral seolah terbalik.
Praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar menilai bahwa kondisi tersebut dapat terjadi ketika kepentingan pribadi, kelompok, maupun kekuasaan lebih diutamakan daripada kebenaran dan keadilan.
“Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kita melihat orang yang berusaha jujur dan menyampaikan fakta justru diserang, difitnah, bahkan dianggap sebagai pihak yang bersalah. Sebaliknya, mereka yang nyata-nyata melakukan kesalahan kadang mendapat pembelaan karena memiliki kekuatan, pengaruh, atau kedekatan tertentu,” ujar Mbah Semar.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial turut memberikan dampak yang besar. Informasi yang belum tentu benar dapat dengan mudah menyebar dan membentuk opini publik. Akibatnya, banyak orang lebih percaya pada narasi yang ramai dibicarakan daripada fakta yang sebenarnya.
Mbah Semar menegaskan bahwa kebenaran tidak selalu ditentukan oleh jumlah orang yang mendukung atau membela. Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun hanya sedikit yang memperjuangkannya.
“Jangan pernah takut berdiri di pihak yang benar hanya karena mayoritas berada di pihak yang salah. Sejarah telah membuktikan bahwa kebenaran sering kali diuji terlebih dahulu sebelum akhirnya diakui,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, tidak mudah terprovokasi, dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan penilaian terhadap suatu persoalan.
Menurutnya, salah satu tanda masyarakat yang sehat adalah ketika kritik diterima sebagai bahan perbaikan, bukan dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, ketika orang yang menyampaikan kebenaran justru dibungkam dan disalahkan, maka kondisi tersebut patut menjadi bahan introspeksi bersama.
“Di zaman yang penuh tantangan ini, menjaga integritas dan kejujuran memang tidak selalu mudah. Namun, nilai-nilai tersebut tetap harus dipertahankan agar keadilan tidak hanya menjadi slogan, melainkan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari,” pungkas Mbah Semar.
Pesan moralnya sederhana: jangan ikut menjadi bagian dari kebisingan yang membela kesalahan. Tetaplah berpihak pada kebenaran, meskipun terkadang harus berjalan sendirian.













