Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

ToT Pelatih Internal Bank Jateng Tahap 2

Yogyakarta – Jejakindonesia.news II Bekerjasama dengan German Sparkassenstiftung for International Cooperation (DSIK) Bank Jateng kembali melaksanakan Pelatihan untuk Pelatih bagi pelatih internal Bank Jateng. Kegiatan dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 5-7 Mei 2026, diikuti oleh 20 orang staf Bank Jateng yang telah terseleksi dan memiliki pengalaman melatih secara internal.

Berdasarkan praktik dan pengalaman Sparkasse (Jerman) yang dikenal memiliki salah satu sistem pengembangan SDM perbankan paling matang di Eropa, pengembangan trainer internal memiliki berbagai keunggulan diantaranya Transfer Pengetahuan yang Sangat Kontekstual & Relevan. Sparkasse, banyak pelatih internal berasal dari praktisi aktif (frontliner, relationship manager, risk, kredit, kepemimpinan). Dimana dengan demikian, Sparkasse bisa mengambil berbagai manfaat seperti halnya materi pelatihan langsung terkait realitas kerja bank, Studi kasus diambil dari pengalaman nyata Sparkasse dan Peserta lebih mudah mengaitkan teori dengan praktik. Hal ini diperkuat oleh peran Sparkassenakademien (Akademi Sparkasse regional) yang mengintegrasikan pembelajaran praktik dengan teori terapan perbankan lokal untuk selanjutnya hal ini berimplikasi kepada adanya system dan modul pelatihan yang “membumi”, tidak sekadar konseptual.

Manfaat yang lain Adalah adanya Konsistensi atas Standar dan Budaya Bank. Sparkasse memiliki jaringan lebih dari 350 bank daerah yang otonom, namun tetap menjaga standar layanan, kepemimpinan, dan etika yang seragam. Keberadaan Pelatih internal menjadi alat untuk menyampaikan nilai – nilai Sparkasse (public mandate, kehati-hatian, kedekatan dengan komunitas), menjadi penjaga DNA organisasi dan menyamakan interpretasi kebijakan, SOP, dan regulasi. Hal ini secara eksplisit dikembangkan melalui sistem pendidikan terpusat namun dilatih oleh praktisi internal di masing masing wilayah. Dengan dikimian, proses yang berjalan trainer internal berfungsi sebagai culture carrier, bukan sekadar pengajar.

Pertimbangan Efisiensi Biaya Jangka Panjang juga menjadi pertimbangan ketika Sparkasse memanfaatkan pelatih internal untuk mengurangi ketergantungan pada konsultan eksternal, mengulang dan menskalakan pelatihan secara berkelanjutan dan menyesuaikan pelatihan tanpa biaya desain ulang besar. Model ini membuat transformasi digital dan pengembangan SDM menjadi lebih cepat dan cost efficient, sebagaimana tercermin dalam berbagai proyek transformasi Sparkasse. Hal ini menjadi menyebabkan
investasi awal di internal trainer menurunkan total cost of learning.

Sistem pelatih internal Sparkasse juga menjadi alat untuk meningkatkan Akselerasi Transformasi Digital & Perubahan Mindset. Sparkasse tidak hanya melatih skill teknis, tetapi juga yang berhubungan dengan digital mindset, kemampuan belajar mandiri dan leadership adaptif. Dalam hal ini, pelatih internal berperan besar karena mereka mengalami langsung perubahan sistem & proses, memiliki kredibilitas tinggi di mata peserta (“orang kita sendiri”) dan lebih efektif mempengaruhi sikap, bukan hanya keterampilan. Hal ini terlihat dalam program digital mindset berbasis internal learning platform yang dikustomisasi oleh Sparkasse sendiri. Hal ini juga membuktikan bahwa keberadaan internal trainer dapat mempercepat proses adopsi perubahan.

Di Sparkasse, menjadi pelatih internal sering kali menjadi bagian dari jalur talent & leadership development, sarana menguji kemampuan komunikasi dan coaching dan persiapan menuju peran manajerial. Pendekatan ini membuat pelatihan sekaligus menjadi alat pengembangan bagi peserta pelatihan dan sekaligus alat pengembangan pelatih itu sendiri. Hal ini sejalan dengan filosofi pembelajaran berkelanjutan Sparkassenakademien di seluruh Jerman. Hal ini membuat internal trainer memiliki nilai tambah sebagai talent accelerator.

Pengalaman dari Sparkasse menunjukkan bahwa keberadaan pelatih internal, mampu mendorong peserta pelatihan lebih terbuka berdiskusi dengan sesama rekan, hambatan psikologis belajar jauh lebih rendah dan diskusi terkait tema yang sensitif seperti halnya penjualan, etika dan risiko dapat dilakukan secara lebih jujur dan terbuka. Hal tersebut sulit dicapai oleh trainer eksternal yang tidak hidup dalam sistem bank tersebut.

Pengalaman Sparkasse membuktikan bahwa pelatih internal bukan fasilitas sumberdaya manusia, tetapi lebih dari itu, pelatih internal Adalah aset strategis bank. Oleh karena itu, bagi bank yang ingin memperkuat budaya, meningkatkan kualitas layanan, mempercepat transformasi dan mengembangkan pemimpin dari dalam,
model ini sangat relevan untuk direplikasi.

Atas pertimbangan – pertimbangan tersebut, Bank Jateng Kembali meminta dukungan dari German Sparkassenstiftung for International Cooperation (DSIK) untuk mendukung pengembangan pelatih internal di Bank Jateng. (M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *