Pasuruan – Jejakindonesia.news ||Di tengah hiruk-pikuk politik dan dinamika sosial yang terus bergulir, DPD Partai Golkar Kota Pasuruan memilih untuk berhenti sejenak — bukan untuk beristirahat, melainkan untuk kembali ke akar nilai-nilai kemanusiaan. Dalam momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, partai berlambang beringin ini menggelar kegiatan penyembelihan hewan kurban dengan skala yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya: empat ekor sapi, disembelih secara simbolis di Kantor DPD Partai Golkar Kota Pasuruan, lalu didistribusikan kepada kader dan masyarakat sekitar.
Ini bukan sekadar ritual tahunan. Ini adalah pernyataan sikap: bahwa politik tidak harus jauh dari rasa, bahwa kekuasaan tidak boleh lupa pada tanggung jawab sosial, dan bahwa solidaritas adalah fondasi utama bagi setiap organisasi yang ingin bertahan dan berkembang.
Ketua DPD Partai Golkar Kota Pasuruan, H.M. Toyib, menyatakan bahwa peningkatan jumlah hewan kurban dari tiga menjadi empat ekor merupakan cerminan dari soliditas internal partai yang semakin kuat. “Setiap Idul Adha, kami selalu melaksanakan kurban. Tahun lalu tiga ekor, tahun ini empat ekor. Ini bukan soal angka, tapi soal komitmen,” ujarnya dengan tenang namun tegas.
Ia menjelaskan bahwa satu ekor sapi telah disalurkan sebelumnya ke Kelurahan Gentong sebagai bentuk kepedulian terhadap warga kurang mampu, sementara tiga ekor lainnya disembelih di kantor DPD untuk dibagikan kepada kader dan warga sekitar. Prosesi penyembelihan dilakukan dengan penuh khidmat, dihadiri oleh sejumlah tokoh, kader, dan perwakilan masyarakat.
Hewan-hewan kurban tersebut berasal dari kontribusi sejumlah tokoh dan kader Partai Golkar, termasuk H.M. Misbakhun, Wali Kota Pasuruan Mas Adi Wibowo, serta gabungan Fraksi Golkar bersama DPD Partai Golkar Kota Pasuruan. Kontribusi ini bukan hanya finansial, tetapi juga simbolik — menunjukkan bahwa kepemimpinan dan keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial adalah bagian integral dari identitas Partai Golkar.
Bagi H.M. Toyib, Idul Adha bukan hanya hari raya religius, tetapi juga momen strategis untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sekaligus menjaga soliditas kader di internal partai. “Nilai-nilai Idul Adha mengajarkan keikhlasan, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Ini yang terus kami tanamkan kepada seluruh kader Partai Golkar,” katanya.
Dalam konteks politik modern, di mana persaingan sering kali mengikis rasa persaudaraan, langkah seperti ini menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa partai bukanlah mesin elektoral semata, melainkan wadah bagi manusia-manusia yang memiliki hati nurani, tanggung jawab moral, dan keinginan untuk melayani.
“Semoga ke depan jumlahnya bisa bertambah lagi. Kader Golkar Kota Pasuruan sangat solid dan terus berkembang,” tambahnya dengan optimisme yang nyata.
Ketua Panitia Kurban DPD Partai Golkar Kota Pasuruan, Deny Yudhistirira H, SM, CPLA, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sarana mempererat silaturahmi antar kader dan masyarakat. “Momentum Idul Adha ini menjadi sarana memperkuat silaturahmi kader agar tetap solid sekaligus bentuk kepedulian Partai Golkar kepada masyarakat,” ujarnya.
Prosesi penyembelihan yang digelar dengan tertib dan penuh makna menjadi bukti bahwa Partai Golkar tidak hanya peduli pada hasil pemilu, tetapi juga pada proses membangun komunitas yang harmonis. Setiap potongan daging yang dibagikan bukan hanya makanan, tetapi juga simbol kasih sayang, empati, dan tanggung jawab sosial.
Kegiatan kurban tersebut mendapat apresiasi tinggi dari kader maupun masyarakat sekitar. Banyak yang menilai bahwa langkah ini mampu mempererat kebersamaan dan menumbuhkan semangat gotong royong di lingkungan Partai Golkar Kota Pasuruan.
Dan melalui kegiatan seperti ini, Partai Golkar berhasil membuktikan bahwa mereka bukan hanya ada di atas kertas atau di layar televisi, tetapi juga di dapur-dapur rumah tangga, di gang-gang sempit, dan di hati rakyat kecil.
DPD Partai Golkar Kota Pasuruan telah memberikan contoh konkret tentang bagaimana politik bisa dijalankan dengan hati nurani. Dengan meningkatkan jumlah hewan kurban, mereka tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga memperkuat ikatan sosial, membangun kepercayaan publik, dan menegaskan bahwa partai adalah milik rakyat bukan sebaliknya.
Partai Golkar Kota Pasuruan melalui pelayanan, dan melalui tindakan nyata. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi partai-partai lain untuk kembali ke esensi politik yang sesungguhnya — bukan untuk menguasai, tetapi untuk melayani.













