PASURUAN || Jejakindonesia.news — Harapan untuk memperoleh pekerjaan yang layak di lingkungan rumah sakit berubah menjadi kekecewaan mendalam bagi sejumlah warga di Kota Pasuruan. Puluhan calon tenaga cleaning service yang mengaku dijanjikan bekerja di RSUD dr. R. Soedarsono kini merasa dipermainkan setelah uang yang mereka setor tak kunjung berbuah kepastian kerja.
Salah satu pelapor, Robi Firmanto, mengaku awalnya memperoleh informasi lowongan kerja dari seseorang yang disebut bekerja sama dengan perusahaan outsourcing. Para pencari kerja kemudian diminta menyerahkan sejumlah uang dengan dalih biaya administrasi dan proses masuk kerja.
“Awalnya kami dijanjikan segera bekerja di rumah sakit. Ada yang sampai berharap bisa membantu ekonomi keluarga. Tapi setelah uang disetor, pekerjaan yang dijanjikan tidak pernah jelas,” ungkap salah satu korban dengan nada kecewa (9/5/2026).
Dalam laporan tersebut disebutkan, korban diminta mentransfer sejumlah uang sebagai syarat agar bisa diterima sebagai cleaning service. Namun hingga waktu yang dijanjikan tiba, pekerjaan tak kunjung diberikan dan komunikasi mulai sulit dilakukan.
Tak hanya satu orang, dugaan praktik perekrutan bermasalah ini menyeret banyak nama lain yang mengaku mengalami hal serupa. Total kerugian para korban diperkirakan mencapai belasan juta rupiah.
Ainul Yaqin selaku korban, waktu di wawancarai oleh awak media mengatakan perekrutan tersebut diklaim untuk penempatan cleaning service di rumah sakit melalui outsourcing PT Cakrawala cita satnusa Bahkan sejumlah korban sempat mengikuti pelatihan yang dilaksanakan di sebuah rumah yang disebut akan dijadikan kantor perusahaan.
“Waktu pelatihan itu banyak. Ada sekitar 50 lebih orang. Kami dikumpulkan satu per satu. Semua percaya karena dijanjikan kerja di rumah sakit,” ujar Ainul
Ironisnya, setelah berbulan-bulan menunggu, pekerjaan yang dijanjikan tak pernah ada. Jadwal masuk kerja terus mengalami penundaan, mulai dari akhir Februari, setelah Hari Raya Idulfitri, hingga akhirnya tanpa kepastian sama sekali.
“Awalnya bilang akhir Februari mulai kerja. Terus mundur habis Lebaran, lalu mundur lagi. Sampai sekarang tidak ada realisasi,” kata Ainul
Tak hanya kehilangan uang, sejumlah korban mengaku mengalami kerugian lain yang lebih besar. Ada yang menolak pekerjaan sebelumnya karena yakin akan segera ditempatkan bekerja di rumah sakit sesuai janji perekrut.
“Kita rugi waktu, rugi tenaga, bahkan ada yang sudah menolak kerjaan lain karena percaya akan diterima kerja di sini,” tegas salah satu korban.
Dalam surat tanda terima laporan pengaduan masyarakat tertanggal 1 Mei 2026 yang diterima para korban, disebutkan adanya dugaan tindak pidana penipuan dengan total kerugian sementara mencapai belasan juta rupiah. Nama-nama korban lain juga turut tercantum dalam laporan tersebut.
Kekecewaan para pencari kerja semakin besar karena impian mereka untuk bekerja di institusi pelayanan kesehatan justru berubah menjadi beban ekonomi baru. Sebagian korban diketahui berasal dari keluarga sederhana yang rela meminjam uang demi memperoleh pekerjaan tetap.
Kasus ini menjadi tamparan keras terhadap maraknya praktik perekrutan tenaga kerja yang diduga memanfaatkan kondisi sulit masyarakat pencari kerja. Di tengah tingginya kebutuhan lapangan pekerjaan, janji manis penerimaan pegawai sering kali menjadi celah bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan pribadi.
Para korban kini berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas perkara tersebut serta memberikan kepastian hukum. Mereka juga meminta agar masyarakat lebih waspada terhadap proses perekrutan kerja yang mensyaratkan pembayaran uang dalam jumlah tertentu tanpa prosedur resmi yang jelas.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak yang disebut dalam laporan pengaduan tersebut.













