JAKARTA – jejakindonesia.news||Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) Suyudi Ario Seto menerima audiensi Puteri Anak dan Remaja DKI Jakarta di Gedung Tan Satrisna BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (15/9/2026).
Dalam audiensi tersebut, Kepala BNN RI didampingi para Pejabat Tinggi Madya dan Pratama BNN RI. Pertemuan menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan wawasan kepada generasi muda mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika sekaligus mendorong mereka mengambil peran sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Suyudi menegaskan bahwa generasi muda mempunyai posisi penting dalam menentukan arah masa depan bangsa. Prestasi dan potensi yang dimiliki, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan karakter, kepedulian sosial, serta kemampuan menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif, termasuk penyalahgunaan narkotika.
“Yang kita butuhkan bukan hanya tahu dan paham, tetapi mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, kemudian mengambil keputusan yang benar,” ujar Suyudi.
Kepala BNN RI juga mengingatkan pentingnya kemampuan generasi muda dalam memilih lingkungan pergaulan. Menurutnya, tidak semua pengaruh dari lingkungan membawa seseorang kepada hal-hal positif.
Karena itu, diperlukan prinsip yang kuat agar generasi muda tidak mudah terbawa arus. Pemahaman, nilai moral, serta landasan agama yang baik dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan diri.
“Pertahanan yang paling kuat berasal dari diri sendiri,” pesan Suyudi dalam memberikan penguatan kepada para peserta audiensi.
Ia menambahkan, pemahaman tentang bahaya narkotika tidak cukup hanya berhenti pada pengetahuan. Generasi muda harus mampu menerapkan pengetahuan tersebut ketika menghadapi situasi nyata dan menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
Suyudi turut menjelaskan bahwa perkembangan narkotika dan modus penyalahgunaannya terus menghadirkan tantangan. Narkotika dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan berpotensi disamarkan atau dicampurkan ke dalam makanan maupun minuman.
Kondisi tersebut membuat literasi dan kewaspadaan menjadi semakin penting, khususnya bagi generasi muda. Mereka diharapkan tidak mudah menerima sesuatu tanpa mengetahui asal-usul serta keamanannya.
Menurut Suyudi, pengetahuan yang diperoleh para peserta juga diharapkan tidak berhenti pada diri sendiri. Informasi dan edukasi mengenai bahaya narkotika dapat diteruskan kepada teman sebaya, keluarga, maupun masyarakat.
“Ilmu yang bermanfaat jangan berhenti pada diri sendiri. Bagikan kepada teman, keluarga, dan lingkungan agar semakin banyak yang memiliki pemahaman dan kewaspadaan,” ungkapnya.
Sementara itu, Regional Director Puteri Anak dan Remaja Indonesia Sri Sintawati menjelaskan bahwa audiensi dengan BNN RI merupakan bagian dari persiapan peserta menuju kompetisi tingkat nasional.
Para peserta nantinya akan berkompetisi bersama perwakilan dari sekitar 25 provinsi di Indonesia. Berbagai audiensi dan pembekalan dengan lembaga terkait dilakukan untuk memperkaya literasi serta wawasan para peserta.
Sri menjelaskan, peserta juga akan mengikuti karantina selama lima hari yang diisi berbagai kegiatan dan tes, termasuk debat. Materi yang diperoleh selama pembekalan menjadi salah satu sumber wawasan yang dapat mendukung peserta dalam menghadapi sesi debat.
Audiensi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi BNN untuk memperkuat pesan bahwa generasi muda bukan hanya dapat menjadi peserta dalam sebuah kompetisi, tetapi juga dapat mengambil peran nyata dalam membangun lingkungan yang sehat dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.
Melalui penguatan literasi dan edukasi, Puteri Anak dan Remaja DKI Jakarta diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus agen perubahan, terutama dalam menyampaikan pesan pencegahan kepada teman sebaya dan masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan upaya bersama membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan bersih dari narkotika.













