Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Apa Malpraktik? Masuk Ruang Operasi RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah atau RS Sanglah Fit, Kini Ewang Divonis Gagal Ginjal

Bali – Jejakindonesia.news || Apa Malpraktik? Niat hati ingin sembuh dari gangguan sulit menelan, seorang pasien bernama Ewang Setyo Budi justru harus menghadapi kenyataan pahit.

Usai menjalani serangkaian tindakan medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar, kondisi kesehatan Ewang merosot tajam. Pasien yang semula masuk rumah sakit dalam kondisi stabil dan fit tersebut kini divonis mengalami gagal ginjal.

Peristiwa pilu ini bermula saat Ewang memutuskan untuk mengikuti saran tim medis agar melakukan tindakan operasi. Pria tersebut diketahui mengeluhkan gangguan sulit menelan atau secara medis dikenal sebagai disfagia.

Berdasarkan informasi medis, keluhan sulit menelan yang dialami Ewang erat kaitannya dengan dugaan gangguan pada saluran kerongkongan, seperti Akalasia Esofagus maupun Atresia Esofagus.

Istri Ewang mengungkapkan bahwa sang suami sejatinya memiliki kelainan pada saluran cernanya. Menurut penjelasannya, gangguan tersebut membuat mekanisme katup otomatis antara kerongkongan dan lambung tidak dapat bekerja secara optimal. Katup di area lambung mengalami pengerasan sehingga proses mencerna makanan membutuhkan bantuan asupan air minum yang cukup banyak.

“Suamiku punya kelainan Atresia Esofagus . Dia itu tidak bisa menelan dengan normal karena klep lampung yang otomatis buka tutup. Di lambung itu tutup mengeras, bisa makan tapi harus banyak minum air. Sebenarnya sehat, fit suamiku,” paparnya, Kamis 15 Oktober 2026.

Sang istri menegaskan bahwa sebelum menjalani tindakan medis, kondisi fisik Ewang sangat bugar. Sang suami tetap dapat beraktivitas seperti biasa dan dapat mengonsumsi makanan harian tanpa kendala fisik yang fatal.

Jalan berliku penanganan medis Ewang mulai memicu tanda tanya keluarga sejak masa persiapan prosedur operasi. Pihak keluarga mengaku sempat terkejut dan bingung ketika mendadak dipanggil oleh tim medis pada hari tindakan.

Secara umum, pemberitahuan operasional medis kepada keluarga pasien dilakukan beberapa hari atau sepekan sebelumnya. Dokter yang menangani saat itu mengakui adanya kekhilafan karena lupa memberikan informasi jadwal lebih awal.

Sebagai masyarakat awam yang menaruh kepercayaan penuh pada penanganan medis profesional, pihak keluarga memilih untuk menuruti seluruh rekomendasi serta arahan dari tim dokter. Langkah persiapan pun berlanjut ke tahap pemeriksaan penunjang berupa rontgen sebelum prosedur pembedahan utama dimulai.

Hasil rontgen awal menunjukkan masih adanya sisa makanan yang tertinggal di dalam saluran pencernaan pasien. Melihat kondisi tersebut, tim medis mengambil tindakan untuk membersihkan dan menguras isi perut serta kerongkongan Ewang.

Prosedur pembersihan ini dilakukan melalui tindakan endoskopi agar area yang ditindak bersih dari material organik.

Tahap kritis terjadi ketika pasien mulai berada di dalam ruang operasi untuk menjalani prosedur pembersihan saluran dari kerongkongan menuju lambung. Usai diberikan pembiusan total (generatal anesthesia) oleh dokter berinisial ET, hal tak terduga mendadak terjadi. Pasien mengalami muntah hebat di tengah kondisi yang belum sadarkan diri secara penuh.

Muntahan yang berisi sisa makanan tersebut secara tidak sengaja tersedot dan masuk ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru pasien (aspirasi). Kejadian tersebut memicu komplikasi fatal mendadak. Ewang dilaporkan mengalami henti napas sekaligus henti jantung secara tiba-tiba di meja operasi.

Kondisi darurat tersebut memaksa tim dokter untuk membatalkan seluruh rencana tindakan operasi kerongkongan. Fokus penanganan medis dialihkan sepenuhnya untuk memberikan tindakan penyelamatan jiwa (resusitasi) demi mengembalikan denyut jantung serta fungsi pernapasan Ewang.

Meskipun nyawanya berhasil diselamatkan dari henti jantung, kondisi kesehatan Ewang setelah keluar dari ruang operasi justru terus memburuk secara signifikan. Pasien tidak kunjung membaik, melainkan mengalami kegagalan organ multipel yang berujung pada diagnosis baru berupa gagal ginjal akut.

Tim dokter mengonfirmasi bahwa kerusakan fungsi ginjal tersebut timbul sebagai efek berantai dari insiden henti jantung serta penurunan pasokan oksigen yang drastis ke seluruh jaringan tubuh.

Akibat gagal ginjal, Ewang pun harus cuci darah. Tapi cobaan tak berhenti di sana? ” Kondisi sekarang terus menurun. Kondisi sekarang suamiku gagal ginjal efek henti jantung dan tensi sekarang 40 mmHg jadi tidak bisa cuci darah,” tandasnya.

Pihak keluarga yang terpukul mendalam kini secara terbuka mempertanyakan dugaan malpraktik serta standar operasional prosedur (SOP) di ruang operasi. Mereka merasa kecewa berat atas komunikasi dan penanganan yang diberikan oleh tim dokter yang dinilai kurang profesional dalam mengantisipasi risiko pembiusan pasien.

“Aku menyesal percaya dengan dokter-dokter di ruang operasi. Kok seperti tidak profesional dan hanya berkata ini di luar kendali kita,” tukasnya. Di bagian lain Humas RS Sanglah yang dihubungi via WA, Kamis 15 Oktober 2026 belum memberikan tanggapan terkait dugaan malpraktik tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!