JEMBER, SABTU, 31 OKTOBER 2026 — jejakindonesia.news||Di tengah keterbatasan ekonomi dan usia yang semakin senja, Kusno (64), seorang penjual bakpao keliling asal Dusun Babatan, RT 001/RW 011, Desa Jenggawah, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, kini harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Bersama sang istri, Sukarsih (66), ia tengah dihadapkan pada persoalan serius terkait tempat tinggal yang selama ini menjadi tempat mereka berteduh.
Pasangan lanjut usia tersebut selama ini hanya menumpang di rumah milik warga. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Kusno mengandalkan penghasilan dari berjualan bakpao keliling. Namun, pendapatan yang diperolehnya tidak menentu. Terkadang dagangannya habis terjual, tetapi tidak jarang pula hasil penjualannya jauh dari harapan.
“Namanya juga berjualan, kadang laku dan kadang tidak. Kami hanya bisa bersyukur atas apa yang diperoleh setiap hari,” ungkap Kusno.
Persoalan semakin berat setelah rumah yang selama ini ditempatinya diketahui telah dijual oleh pemiliknya dan dalam waktu dekat akan ditempati pemilik baru. Kondisi tersebut membuat Kusno dan istrinya diliputi kebingungan, mengingat keduanya tidak memiliki rumah sendiri maupun kemampuan ekonomi untuk mencari tempat tinggal pengganti.
Di tengah situasi sulit tersebut, secercah harapan sempat muncul ketika salah seorang kakak Kusno menawarkan bantuan berupa sebidang tanah kosong yang dapat digunakan untuk mendirikan rumah sederhana.
Dengan mata berkaca-kaca, Kusno mengungkapkan rasa syukurnya atas kepedulian sang kakak. Namun, bantuan berupa tanah tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan, sebab dirinya tidak memiliki biaya untuk membangun tempat tinggal.
“Alhamdulillah, saya masih memiliki saudara yang peduli. Kakak saya memberikan tempat berupa tanah kosong dan menyuruh kami membangun rumah kecil untuk ditempati. Namun, untuk membangun rumah itu kami tidak punya biaya. Jangankan membangun rumah, untuk kebutuhan sehari-hari saja penghasilan saya tidak menentu,” tuturnya lirih.
Kondisi tersebut membuat Kusno menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Jember, khususnya Bupati Jember, Gus Fawait, agar berkenan memberikan perhatian terhadap kondisi keluarganya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat secara langsung keadaan yang dialaminya, sekaligus mempertimbangkan kemungkinan bantuan atau program sosial yang dapat meringankan beban hidup mereka, terutama dalam pemenuhan kebutuhan tempat tinggal yang layak.
“Saya hanya bisa berharap kepada Pak Bupati Gus Fawait. Semoga beliau mendengar suara hati kami sebagai rakyat kecil yang sedang membutuhkan bantuan. Kami tidak meminta yang berlebihan, hanya berharap bisa memiliki rumah sederhana untuk berteduh dan menjalani hari tua dengan tenang,” harapnya.
Keprihatinan serupa juga disampaikan Toyib, tetangga dekat Kusno. Ia menilai kondisi pasangan lanjut usia tersebut patut mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian sosial.
Menurut Toyib, selama ini Kusno dikenal sebagai warga kecil yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan berjualan bakpao keliling. Ia juga mengetahui bahwa Kusno bersama istrinya hanya tinggal menumpang di rumah milik orang lain.
“Kasihan Pak Kusno. Beliau tidak punya rumah sendiri dan selama ini hanya menumpang. Sekarang rumah yang ditempati sudah terjual. Kalau nanti harus meninggalkan rumah itu, mau tinggal di mana? Kami berharap pemerintah, khususnya Bupati Jember, bisa memberikan perhatian dan membantu beliau,” ungkap Toyib.
Kisah Kusno dan Sukarsih menjadi potret nyata perjuangan masyarakat kecil yang masih menghadapi persoalan mendasar, yakni kebutuhan akan tempat tinggal yang layak. Di usia yang seharusnya dapat dijalani dengan lebih tenang, keduanya justru harus memikirkan bagaimana memperoleh tempat berteduh untuk melanjutkan kehidupan.
Persoalan ini diharapkan dapat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jember melalui perangkat daerah terkait, khususnya dalam melakukan pendataan, verifikasi kondisi sosial ekonomi, serta menelusuri kemungkinan bantuan melalui program rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan sosial, maupun skema bantuan perumahan lainnya sesuai persyaratan yang berlaku.
Harapan Kusno sesungguhnya sederhana. Ia tidak meminta kemewahan, melainkan hanya ingin memiliki rumah kecil yang layak untuk ditempati bersama istrinya hingga masa tua.
Kini, harapan tersebut tertuju kepada Bupati Jember, Gus Fawait, agar suara hati pasangan lanjut usia dari Desa Jenggawah ini mendapat perhatian dan dapat ditindaklanjuti melalui langkah nyata.
Sebab, bagi Kusno dan Sukarsih, sebuah rumah sederhana bukan sekadar bangunan, melainkan tempat untuk mendapatkan rasa aman, ketenangan, dan menjalani sisa usia dengan penuh martabat.













