JEMBER – Jejakindonesia.news || Banjir informasi di media sosial membuat kemampuan membaca dan memilah informasi menjadi semakin penting. Bupati Jember Gus Muhammad Fawait mengingatkan pelajar agar tidak mudah menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial.
Pesan itu disampaikan Gus Fawait saat menghadiri kegiatan literasi dan implementasi Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) dalam rangka Hari Indonesia Menabung di SMPN 7 Jember, Senin (10/8/2026).
Gus Fawait menilai literasi harus menjadi benteng pelajar di tengah derasnya arus konten digital. Sebab, tidak semua informasi yang muncul di media sosial dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Kalau senang membaca, dia akan tahu isi dunia. Video pendek dan media sosial harus diimbangi dengan literasi,” ujar Gus Fawait.
Dia bahkan mengaitkan pentingnya membaca dengan wahyu pertama dalam Alquran yang diawali dengan perintah membaca.
Menurutnya, membaca bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi menjadi fondasi untuk memahami informasi dan menentukan pilihan.
Gus Fawait kemudian memberikan contoh informasi yang menurutnya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Dia menyebut ada narasi di media sosial yang menuding Presiden Prabowo Subianto tidak memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur pendidikan.
Padahal, kata dia, SMPN 7 Jember tahun ini mendapatkan dukungan pembangunan dengan nilai sekitar Rp2 miliar.
“Kalau mudah percaya kepada video-video (di media sosial), itu berbahaya. Karena itu literasi penting,” tegasnya.
Ilmu Jadi Jalan Naik Kelas
Bagi Gus Fawait, literasi tidak bisa dipisahkan dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dia menegaskan, pendidikan merupakan jalan paling efektif bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk mengubah masa depan.
“Awalnya bukan siapa-siapa bisa menjadi siapa-siapa. Jalan yang paling efektif adalah ilmu pengetahuan,” katanya.
Karena itu, Pemkab Jember terus mendorong akses pendidikan melalui program beasiswa.
Gus Fawait menyebut sekitar 11 ribu hingga 12 ribu anak Jember akan mendapatkan beasiswa hingga lulus.
Program tersebut, lanjut dia, menjadi bagian dari upaya memastikan persoalan ekonomi tidak menjadi penghalang anak-anak Jember untuk mendapatkan pendidikan.
Namun, pendidikan saja dinilai belum cukup. Pelajar juga harus memiliki kemampuan mengelola keuangan.
Di titik inilah Program KEJAR menjadi penting.
5.832 Pelajar Sudah Punya Rekening
Kepala OJK Jember
Aris Budiman mengatakan Program Satu Rekening Satu Pelajar menjadi sarana mengenalkan literasi keuangan sejak bangku sekolah.
Data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan 5.832 pelajar telah membuka rekening.
Total tabungan yang terkumpul disebut mencapai sekitar Rp34 miliar.
Menurut Aris, angka tersebut bukan sekadar nominal. Lebih penting, kebiasaan menabung mulai dibangun sejak usia sekolah.
“Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi bagian dari investasi untuk masa depan,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan pelajar agar mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Uang yang dimiliki jangan seluruhnya habis untuk memenuhi keinginan sesaat, termasuk untuk permainan daring maupun konsumsi yang tidak produktif.
Kebiasaan kecil tersebut, kata Aris, akan menentukan perilaku keuangan ketika pelajar memasuki usia dewasa.
Program literasi keuangan itu juga berjalan beriringan dengan dukungan pendidikan dari Pemkab Jember. Pada 2026, pemerintah daerah memberikan beasiswa kepada sekitar 7.030 mahasiswa.
Bagi Aris, pendidikan dan tabungan memiliki satu titik temu: sama-sama investasi untuk masa depan.
“Kesempatan pendidikan dan kebiasaan menabung adalah investasi penting bagi masa depan generasi muda,” katanya.
Gus Fawait berharap kombinasi pendidikan, literasi digital, dan literasi keuangan mampu melahirkan generasi Jember yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kritis dalam menerima informasi dan bijak mengelola uang.
Sebab, generasi muda hari ini bukan hanya dipersiapkan untuk menghadapi masa depan.
Mereka yang kelak akan menjadi pelaku utama pembangunan.
(Dodik)













