JEMBER — Jejakindonesia.news || Program Homecare Pemkab Jember sempat menjadi sorotan di media sosial. Layanan kesehatan jemput bola yang menyasar warga rentan itu bahkan disebut hanya sebatas datang ke rumah, memeriksa pasien, mengambil dokumentasi, lalu pergi.
Namun, anggapan tersebut dibantah pihak puskesmas.
Kepala Puskesmas Kencong, Untung Pujianto, memastikan kunjungan tenaga medis ke rumah warga bukanlah titik akhir pelayanan.
Menurutnya, pemeriksaan di rumah justru menjadi pintu masuk untuk menentukan kebutuhan medis pasien sekaligus memastikan apakah warga cukup ditangani di tingkat puskesmas atau membutuhkan penanganan lanjutan.
“Pemeriksaan awal di rumah pasien bukanlah akhir dari pelayanan, melainkan langkah awal untuk mendeteksi kondisi kesehatan warga dan menentukan tindakan medis berikutnya,” ujar Untung.
Ia menjelaskan, Homecare dirancang untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga yang mengalami hambatan mengakses fasilitas medis.
Sasarannya bukan sembarang warga.
Program tersebut diprioritaskan bagi kelompok rentan, mulai dari masyarakat miskin ekstrem, lansia yang tinggal seorang diri, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, penderita penyakit kronis hingga balita dengan indikasi stunting.
Totalnya, program Homecare ditargetkan menjangkau sekitar 25 ribu keluarga rentan di Kabupaten Jember.
Bukan Sekadar Datang, Periksa, Lalu Pulang
Untung membeberkan alur pelayanan Homecare yang menurutnya selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
Setiap penerima manfaat mendapatkan kunjungan secara berkala. Pada tahap awal, tenaga medis mendatangi rumah pasien untuk melakukan pemeriksaan sekaligus memetakan kondisi kesehatannya.
Jenis pelayanan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Mulai dari pemeriksaan fisik oleh dokter, perawatan luka, pemantauan kehamilan, hingga pemeriksaan menggunakan USG portabel dapat dilakukan dalam kunjungan tersebut.
“Pemeriksaan dan tindakan disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” katanya.
Setelah kondisi pasien diketahui, tim medis menentukan langkah berikutnya.
Jika masih dapat ditangani di tingkat pelayanan kesehatan primer, pasien bisa langsung mendapatkan pengobatan atau tindakan medis di tempat.
Namun, apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, pasien akan diarahkan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
“Pasien yang membutuhkan tindakan medis lanjutan atau perawatan intensif akan langsung dirujuk ke rumah sakit atau faskes sekunder,” imbuhnya.
Artinya, kunjungan rumah bukan sekadar agenda datang dan pulang. Ada proses pemantauan, penanganan dan, bila diperlukan, rujukan yang mengikuti hasil pemeriksaan pasien.
Warga di Luar Sasaran Tetap Bisa Melapor
Homecare juga tidak sepenuhnya tertutup hanya bagi warga yang sudah masuk daftar sasaran utama.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan tetap dapat menyampaikan laporan melalui kanal Wadul Gus’e maupun puskesmas setempat.
Laporan tersebut nantinya diverifikasi oleh petugas sebelum diputuskan bentuk penanganan yang diperlukan.
“Laporan yang masuk akan diverifikasi serta disaring terlebih dahulu sebelum ditindaklanjuti,” jelas Untung.
Dari sisi regulasi, pelaksanaan Homecare mengacu pada UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Program tersebut juga didukung Permenkes Nomor 6 Tahun 2024 dan Permenkes Nomor 19 Tahun 2024.
Untung menegaskan, esensi Homecare bukan terletak pada seberapa banyak rumah yang didatangi maupun dokumentasi yang dihasilkan.
Ukuran utamanya adalah apakah kondisi kesehatan warga berhasil diketahui dan mendapatkan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
“Keberhasilan program ini tidak diukur dari seberapa banyak foto yang diunggah ke media sosial atau jumlah rumah yang dikunjungi, melainkan dari terdatanya kondisi pasien, teridentifikasinya kebutuhan medis, serta tersedianya tindak lanjut atau rujukan yang tepat,” tandasnya.
Dengan pola tersebut, Pemkab Jember ingin memastikan warga yang selama ini terkendala jarak, kondisi fisik maupun faktor sosial tetap memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan tanpa harus selalu datang terlebih dahulu ke fasilitas kesehatan.
(Dodik)













