Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Kades Sumberkolak Siap Kawal Asta Cita Ke-6 dan Tegaskan Desa Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

SITUBONDO — Jejakindonesia.news || Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberkolak menyatakan kesiapan penuh untuk mengawal Misi Asta Cita ke-6 yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan strategis ini menempatkan desa di garda terdepan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, pemerataan kesejahteraan, serta pengentasan kemiskinan dari tingkat bawah.

Hal tersebut ditegaskan oleh Supandi, S.Pd., Kepala Desa (Kades) Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Minggu (13/9/2026).

Menurut Supandi, arah kebijakan baru dari pemerintah pusat ini merupakan angin segar dan momentum emas bagi masyarakat desa. Sebagai pemimpin di tingkat akar rumput, ia memandang program nasional ini bukan sekadar urusan jabatan, melainkan panggilan jiwa untuk mengangkat harkat hidup para petani dan nelayan lokal.

“Misi Asta Cita ini adalah pembuktian sejarah. Sudah saatnya kedaulatan ekonomi dirasakan langsung oleh petani, nelayan, dan masyarakat kecil di pelosok desa, bukan menguap di tengah jalan,” ujar Supandi secara tegas.

Kebijakan kedaulatan ekonomi ini dieksekusi oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Langkah taktis di lapangan dilakukan melalui formula 12 Aksi Prioritas Bangun Desa Bangun Indonesia, yang bertumpu pada tiga pilar utama dan satu program penguatan kapasitas pemuda:

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dibentuk untuk memotong rantai pasok pangan yang panjang dan melindungi warga dari jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal. Koperasi ini menargetkan penyaluran logistik desa serta pengembalian keuntungan 20% untuk Pendapatan Asli Desa (PADes) dengan memprioritaskan tenaga kerja lokal.

Program Swasembada Ekonomi Hijau dan Pangan Terintegrasi (SEHATI). Kemitraan strategis pemerintah dengan Bank Dunia ini mengalokasikan stimulan anggaran hingga Rp2,5 miliar per desa untuk 10.000 desa percontohan nasional guna membangun ketahanan pangan mandiri berbasis ekonomi hijau berkelanjutan.

Penyerap Ekosistem Lokal Makan Bergizi Gratis (MBG). Mewajibkan seluruh pasokan bahan baku pangan dibeli langsung dari hasil pertanian dan perikanan desa setempat agar perputaran modal triliunan rupiah tidak lari ke kota besar.

Gerakan Pemuda Bangun Desa. Memfasilitasi beasiswa pendidikan senilai Rp300 juta per orang bagi pemuda desa terpilih untuk mendalami ilmu teknologi dan tata kelola modern di luar negeri, seperti Jepang, dengan kewajiban mutlak kembali untuk memajukan daerah asal.

Meskipun menyambut baik kucuran dana yang bernilai miliaran rupiah ini, Kades Sumberkolak mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada komitmen transparansi serta pengawasan ketat di lapangan guna menghindari celah penyimpangan anggaran.

“Kami siap mengawal penuh program ini agar perputaran uang triliunan rupiah benar-benar parkir dan memakmurkan warga kami. Jangan sampai program luar biasa ini hanya menjadi macan kertas, dan desa kembali lagi menjadi penonton di rumahnya sendiri,” pungkas Supandi. (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!