BANYUWANGI – jejakindonesia.news||Dalam kehidupan sosial, dunia kerja, maupun lingkungan organisasi, sering kali ditemukan orang-orang yang lebih memilih mencari keuntungan melalui pujian berlebihan daripada melalui kemampuan dan integritas. Fenomena ini dikenal dengan istilah “penjilat”, yaitu perilaku seseorang yang selalu berusaha menyenangkan pihak yang memiliki kekuasaan demi kepentingan pribadi.
Praktisi media yang akrab disapa Mbah Semar menilai bahwa sikap menjilat mungkin dapat memberikan keuntungan sesaat, tetapi dalam jangka panjang berpotensi mengikis kehormatan dan harga diri seseorang.
“Orang yang menjilat mungkin terlihat dekat dengan kekuasaan, tetapi kedekatan itu sering dibangun bukan karena kualitas dirinya, melainkan karena kepentingan yang ingin diraih,” ujar Mbah Semar.
Menurutnya, seseorang yang memiliki harga diri akan berusaha memperoleh kepercayaan melalui kerja keras, prestasi, dan kejujuran. Sebaliknya, penjilat cenderung mengorbankan prinsip demi mendapatkan perhatian, jabatan, atau keuntungan tertentu.
Perilaku menjilat juga dapat merusak lingkungan kerja dan organisasi. Kritik yang seharusnya menjadi bahan perbaikan sering kali hilang karena digantikan pujian yang tidak objektif. Akibatnya, pemimpin dapat kehilangan masukan yang jujur dan sulit melihat persoalan yang sebenarnya terjadi.
Mbah Semar menegaskan bahwa menghormati atasan, pemimpin, atau orang yang lebih berpengaruh adalah hal yang baik. Namun, penghormatan berbeda dengan sikap menjilat.
“Hormat lahir dari etika dan kesadaran. Menjilat lahir dari kepentingan. Keduanya sangat berbeda,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa orang yang terlalu sering mengorbankan prinsip demi menyenangkan pihak tertentu pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan dari lingkungan sekitarnya. Sebab, integritas tidak dapat dibeli dengan pujian dan kepura-puraan.
“Jabatan bisa hilang, kekuasaan bisa berganti, tetapi nama baik dan harga diri akan tetap melekat pada seseorang. Karena itu, lebih baik dihargai karena kejujuran daripada dipuji karena kepalsuan,” pungkas Mbah Semar.
Pesan moralnya, kesuksesan yang dibangun di atas kemampuan, kerja keras, dan integritas akan bertahan lebih lama dibandingkan kesuksesan yang diperoleh melalui sanjungan dan kepentingan sesaat. Seseorang mungkin bisa hidup dengan berbagai cara, tetapi harga diri adalah nilai yang tidak seharusnya ditukar dengan keuntungan apa pun.













