Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Kemiskinan Jember Turun ke 8 Persen, Terendah dalam Satu Dekade

JEMBER – Jejakindonesia.news || Kabupaten Jember mencatat capaian positif dalam upaya menekan angka kemiskinan pada 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur yang tercantum dalam bahan laporan, jumlah penduduk miskin di Jember turun menjadi 200.770 jiwa, berkurang 15.990 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.

Persentase penduduk miskin juga menyusut dari 8,67 persen pada 2025 menjadi 8,00 persen pada 2026. Capaian tersebut menempatkan tingkat kemiskinan Jember pada posisi terendah dalam rentang data 2016–2026.

Penurunan ini menjadi perkembangan penting bagi Jember, mengingat daerah tersebut sempat mengalami tekanan ekonomi yang cukup berat selama pandemi Covid-19. Pada 2020, jumlah penduduk miskin tercatat mencapai 247.990 jiwa atau 10,09 persen. Angka itu kembali meningkat pada 2021 hingga menyentuh 257.090 jiwa atau 10,41 persen.

Setelah melewati periode tersebut, angka kemiskinan secara umum menunjukkan kecenderungan menurun. Pada 2022, jumlah penduduk miskin turun menjadi 232.730 jiwa, meskipun sempat kembali meningkat pada 2023 menjadi 236.460 jiwa. Tren penurunan berlanjut pada 2024 dan 2025, hingga mencapai 200.770 jiwa pada 2026.

Jika dibandingkan dengan kondisi 2021, jumlah penduduk miskin pada 2026 berkurang sebanyak 56.320 jiwa. Sementara itu, persentasenya turun 2,41 poin persentase, dari 10,41 persen menjadi 8,00 persen.

Capaian tersebut juga melampaui kondisi sebelum pandemi. Pada 2019, persentase penduduk miskin Jember masih berada di angka 9,25 persen. Dengan demikian, tingkat kemiskinan pada 2026 tercatat lebih rendah 1,25 poin persentase dibandingkan capaian tersebut.

Di bawah kepemimpinan Bupati Jember, Gus Fawait, penurunan angka kemiskinan menjadi salah satu indikator yang relevan untuk mengevaluasi arah pembangunan daerah.
Berbagai upaya perlindungan sosial, pengurangan beban pengeluaran rumah tangga, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi aspek penting yang perlu terus diperkuat agar perbaikan statistik tersebut turut dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Meski menunjukkan perkembangan positif, tantangan pengentasan kemiskinan belum sepenuhnya selesai.
Sebanyak 200.770 penduduk masih tercatat berada di bawah garis kemiskinan. Karena itu, konsistensi program penanggulangan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pemerataan pertumbuhan ekonomi tetap menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah daerah.

Ke depan, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari penurunan persentase kemiskinan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan yang layak, memenuhi kebutuhan dasar, dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

(Dodik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!