Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250

Kemiskinan Jember Turun 15.990 Jiwa, Kini Lampaui Rata-Rata Jatim dan Nasional

JEMBER — Jejakindonesia.news || Kabupaten Jember menunjukkan kemajuan dalam upaya menekan kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2026 mencatat, jumlah penduduk miskin di Jember berkurang 15.990 jiwa dalam setahun. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar di antara 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Jumlah penduduk miskin di Jember yang pada Maret 2025 mencapai 216.760 jiwa, kini menyusut menjadi 200.770 jiwa. Perubahan ini sekaligus menggeser posisi Jember dari peringkat kedua menjadi peringkat ketiga daerah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Jawa Timur.

Posisi tersebut kini berada di bawah Kabupaten Malang dengan 233.800 jiwa dan Kabupaten Sampang sebanyak 202.590 jiwa. Meski demikian, penurunan jumlah penduduk miskin di Jember menjadi salah satu perkembangan penting dalam peta kemiskinan di Jawa Timur.

Tak hanya dari sisi jumlah, persentase penduduk miskin Jember juga mengalami penurunan. Pada Maret 2026, angkanya tercatat sebesar 8,00 persen, turun dari 8,67 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi yang terendah dalam satu dekade terakhir. Sebagai perbandingan, tingkat kemiskinan Jember pada 2017 masih berada di angka 11,00 persen.

Persentase kemiskinan sebesar 8,00 persen itu juga lebih rendah dibandingkan target RPJMD 2026 yang ditetapkan sebesar 8,36 persen. Artinya, capaian Jember lebih baik 0,36 poin persentase dari target yang telah ditentukan.

Jika dibandingkan dengan indikator regional dan nasional, posisi Jember juga menunjukkan perkembangan positif. Tingkat kemiskinan Jember berada di bawah rata-rata Jawa Timur sebesar 9,06 persen dan sedikit lebih rendah daripada angka nasional yang mencapai 8,07 persen.

Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Ikut Menurun

Perbaikan kondisi kemiskinan di Jember tidak hanya terlihat dari berkurangnya jumlah warga miskin. Indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menunjukkan angka yang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata provinsi maupun nasional.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Jember tercatat sebesar 0,71. Angka ini lebih rendah dibandingkan Jawa Timur yang mencapai 1,21 dan nasional sebesar 1,27.

Indikator tersebut menggambarkan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin rendah nilainya, semakin kecil rata-rata kesenjangan tersebut.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Jember berada di angka 0,10, jauh di bawah rata-rata Jawa Timur sebesar 0,24 dan nasional sebesar 0,29.

Indeks P2 mencerminkan distribusi pengeluaran di antara penduduk miskin. Nilai yang lebih rendah menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran di kelompok tersebut relatif lebih kecil.

Kedua indikator ini menjadi gambaran tambahan dalam melihat kondisi kemiskinan. Meski demikian, capaian tersebut tetap perlu diikuti dengan program yang mampu meningkatkan pendapatan, memperluas kesempatan kerja, serta menjaga akses masyarakat terhadap layanan dasar.

Jember Menjadi Motor Penurunan Kemiskinan di Sekar Kijang

Perkembangan Jember juga terlihat dalam lingkup kawasan Sekar Kijang yang meliputi Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo.

Di antara lima daerah tersebut, Jember mencatat penurunan persentase kemiskinan paling besar, yakni 0,67 poin persentase. Capaian ini melampaui Banyuwangi yang turun 0,53 poin, Bondowoso 0,36 poin, Situbondo 0,34 poin, dan Lumajang 0,27 poin.

Secara keseluruhan, tingkat kemiskinan Jawa Timur turun dari 9,50 persen menjadi 9,06 persen atau berkurang 0,44 poin persentase.

Dengan tingkat kemiskinan sebesar 8,00 persen, Jember kini berada di bawah Bondowoso yang mencapai 11,84 persen dan Situbondo sebesar 10,83 persen. Angka Jember juga semakin mendekati Lumajang yang tercatat 8,33 persen, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan Banyuwangi sebesar 5,60 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan kemiskinan Jember berlangsung pada dua sisi sekaligus, yakni berkurangnya jumlah penduduk miskin dan menurunnya proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Tantangan berikutnya adalah menjaga tren tersebut agar berkelanjutan. Sebab, keberhasilan penanggulangan kemiskinan tidak cukup diukur dari turunnya angka statistik, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan kemampuan keluarga untuk keluar dari kerentanan ekonomi secara berkelanjutan.

(Dodik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!