JEMBER – Jejakindonesia.news || Tradisi Ancak Agung di Kabupaten Jember tak sekadar menjadi parade budaya. Kirab yang digelar Sabtu (22/8/2026) itu sukses membawa nama Jember mencatat dua rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Dua rekor tersebut masing-masing Ancak Tertinggi dari Rangkaian Suwar-Suwir dan Kirab Ancak Agung Terbanyak.
Pengumuman rekor dilakukan dalam acara Doa dan Shalawat Bersama di Alun-Alun Jember, Sabtu malam.
Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Perwakilan MURI Ari Andriani mengatakan, hasil verifikasi di lapangan menemukan 527 ancak ambil bagian dalam kirab.
Jumlah itu melampaui rekor sebelumnya yang tercatat sebanyak 449 ancak.
Tak hanya dari sisi jumlah. Jember juga memecahkan rekor melalui sebuah ancak setinggi 3,7 meter yang seluruh bagian hiasannya dirangkai menggunakan suwar-suwir.
Ancak tersebut memuat sekitar 1.600 kemasan atau 32 ribu buah suwar-suwir.
Menurut Ari, pencapaian tersebut layak dikukuhkan sebagai rekor dunia karena tidak sekadar mengejar angka. Ada unsur kearifan lokal Jember yang menjadi bagian utama dari rekor tersebut.
“Setelah tadi pagi kami verifikasi, ada 527 ancak,” kata Ari.
Menariknya, angka 527 itu sebenarnya masih jauh dari target awal panitia yang mengusulkan 1.000 ancak. Namun, keterbatasan waktu persiapan membuat target tersebut belum terealisasi.
MURI kemudian menetapkan syarat pemecahan rekor minimal harus meningkat 10 persen dibandingkan rekor sebelumnya. Dengan jumlah 527 ancak, Jember dinilai telah memenuhi syarat tersebut.
Dari capaian itu, MURI justru melempar tantangan baru.
Pemerintah Kabupaten Jember diminta menjadikan angka 1.000 ancak sebagai target pada pelaksanaan tahun depan.
Tantangan tersebut menjadi pekerjaan rumah sekaligus peluang untuk menjadikan Ancak Agung sebagai agenda budaya yang semakin besar.
Kirab Ancak Agung tahun ini mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember.”
Ratusan peserta dari berbagai unsur ikut ambil bagian, mulai organisasi perangkat daerah, puskesmas, pemerintah desa dan kelurahan, sekolah, hingga lembaga kemasyarakatan.
Masing-masing peserta membawa ancak yang dihias dengan hasil bumi dan makanan tradisional.
Bukan hanya menjadi tontonan, ancak menjadi simbol rasa syukur sekaligus bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Di balik kemeriahan kirab, tradisi tersebut juga memperlihatkan kekuatan gotong royong masyarakat.
Hasil pertanian dan kuliner khas Jember dikemas dalam bentuk ancak, kemudian diarak bersama-sama.
Dalam penilaian antar peserta, SMPN 6 Jember keluar sebagai juara pertama. Posisi kedua diraih Roxy Mall, sedangkan SMPN 2 Jember berada di peringkat ketiga.
Bupati Jember Gus Fawait menilai dua rekor tersebut tidak boleh berhenti sebagai pencapaian administratif semata.
Menurut dia, nilai terpenting dari Ancak Agung justru terletak pada bagaimana tradisi lokal tetap hidup di tengah masyarakat dan mampu menggerakkan semangat kebersamaan.
“Ini bukan sekadar tentang rekor, tetapi bagaimana kita menjaga tradisi dan gotong royong masyarakat Jember,” ujarnya.
Gus Fawait pun menyambut tantangan MURI untuk mengerek jumlah peserta menjadi 1.000 ancak pada tahun depan.
“Tahun depan kita ingin lebih besar lagi, targetnya 1.000 ancak. Mudah-mudahan semangat ini terus tumbuh dan menjadi kebanggaan masyarakat Jember,” pungkasnya.
(Dodik)













