Mengungkap Fakta Kebenaran
Indeks
banner 728x250
Berita  

Raden Agus: Hati-Hati Memfitnah Kapolri, Doa Orang Terzalimi Tidak Memiliki Hijab

BANYUWANGI – Jejakindonesia.news|Raden Agus, yang dikenal sebagian masyarakat sebagai sosok yang dekat dengan dunia spiritual dan tarekat, menyampaikan keprihatinannya terhadap berbagai tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepada Kapolri. Menurutnya, perbedaan pendapat dan kritik merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi, namun fitnah dan penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dapat menimbulkan dampak yang merugikan banyak pihak.

Pria yang mengaku sebagai keturunan Raja Majapahit, cucu dari Brawijaya V itu mengingatkan masyarakat agar selalu mengedepankan tabayun atau klarifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

“Hati-hati terhadap fitnah. Jangan sampai karena kebencian, kepentingan, atau kepuasan sesaat, seseorang tega merusak nama baik orang lain. Dalam ajaran agama, fitnah adalah perbuatan yang sangat tercela karena dapat menghancurkan kehormatan, persaudaraan, dan ketentraman masyarakat,” ujarnya, Jum’at (19/6).

Raden Agus menegaskan bahwa dalam keyakinan banyak umat beragama, doa orang yang terzalimi memiliki kedudukan yang istimewa di hadapan Tuhan. Karena itu, ia mengingatkan agar siapa pun tidak mudah menuduh, memfitnah, atau menghakimi seseorang tanpa bukti yang jelas.

“Saya mengingatkan kepada siapa pun yang memfitnah Kapolri atau siapa saja tanpa dasar yang jelas. Hati-hati, karena doa orang yang terzalimi tidak memiliki hijab. Ketika seseorang dizalimi, lalu ia memohon keadilan kepada Tuhan, maka tidak ada yang tahu bagaimana balasan itu akan datang. Bisa berupa kesempitan hidup, hilangnya keberkahan, atau bentuk peringatan lainnya,” tegasnya.

Menurut Raden Agus, kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dan data merupakan bagian dari kontrol sosial yang sehat. Namun apabila kritik berubah menjadi fitnah, maka selain berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum, juga dapat membawa dampak moral dan spiritual bagi pelakunya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga etika dalam bermedia sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat diminta lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan kabar yang belum tentu benar.

“Jika memiliki kritik, sampaikan dengan data, fakta, dan niat untuk memperbaiki. Namun jika hanya menyebarkan fitnah dan kebencian, maka yang dirugikan bukan hanya orang yang difitnah, tetapi juga diri sendiri. Jangan sampai lisan, tulisan, dan tindakan kita menjadi sebab datangnya penyesalan di kemudian hari,” pungkasnya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *